Faedah Tentang Pengampunan Dosa Besar

Apakah karena kartu la ilaha illallah semua pendosa dengan beratnya dosa, dihapuskan seluruh dosanya dan selamat sama sekali dari adzab Neraka?


Masih ingat hadits bithaqah? Jika agak remang atau mungkin belum tahu, yuk cek di link berikut: https://rumaysho.com/3403-kartu-laa-ilaha-illallah...


Kartu tauhid yang mengalahkan catatan dosa sejauh mata memandang. Luar biasa. Masya Allah. Biasa jika kita menyimak penjelasan hadits ini oleh ustadz-ustadz kita di kajian, pikiran kita menerawang bagaimana nasib kita nanti di Akhirat. Khawatir dosa-dosa kita sebegitu banyaknya. Belum ditaubatkan. Tapi kadung mati duluan. Apa bisa kita mengandalkan kartu tauhid sebagaimana dalam hadits sehingga kita selama dari api Neraka?!


Sementara kenyataannya mayoritas manusia akan menghuni Neraka!

 

Sementara kenyataannya banyak dari ahli tauhid yang berdosa besar tetap kena siksa adzab Neraka!?
Padahal mereka juga ahli tauhid. Punya keyakinan la ilaha illallah. Tapi banyak yang tetap masuk Neraka. Pasti ada faktor lain yang membuat kartu tersebut timbangannya sangat berat dan mengalahkan segala timbangan catatan dosa. Apa itu? Kok bisa orang tersebut hanya bermodal kartu tauhid?

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata:


فَهَذِهِ  حَالُ مَنْ قَالَهَا بِإِخْلَاصٍ وَصِدْقٍ، كَمَا قَالَهَا هَذَا الشَّخْصُ. وَإِلَّا فَأَهْلُ الْكَبَائِرِ الَّذِينَ دَخَلُوا النَّارَ كُلُّهُمْ كَانُوا يَقُولُونَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَلَمْ يَتَرَجَّحْ قَوْلُهُمْ عَلَى سَيِّئَاتِهِمْ، كَمَا تَرَجَّحَ قَوْلُ صَاحِبِ الْبِطَاقَةِ.

"Ini adalah keadaan orang yang mengucapkan (la ilaha illallah) dengan ikhlas dan jujur, sebagaimana yang diucapkan oleh orang tersebut. Kalau tidak (karena ikhlas dan jujur), maka para pelaku dosa besar yang masuk Neraka, seluruhnya pun mengucapkan la ilaha illallah, namun ucapan mereka tersebut tidak lebih berat daripada dosa-dosa mereka, sebagaimana beratnya ucapan pemilik kartu itu." [Minhaj as-Sunnah, 6/220]


Masya Allah.

 

Ada beberapa faedah yang bisa kita gali dari kalam beliau dan kenyataan:

[1] Orang yang betul-betul ikhlas dan jujur dalam bertauhid tetap tidak makshum (terjaga) dari dosa besar. Boleh jadi ia melakukan dosa-dosa besar bahkan sangat banyak, tetapi tetap di sisi Allah ia tulus dan jujur di masalah tauhid. 

 

[2] Tidak semua pengucap kalimat tauhid tulus dan jujur dalam mengucapkannya. 

 

[3] Hendaknya kita mendahulukan kemurnian hati sebelum hal-hal yang bersifat lahiriyyah.

 

[4] Hanya Allah Ta'ala yang tahu persis kadar tauhid seseorang di hatinya. 

 

[5] Pentingnya dan beratnya timbangan amalan hati, terutama tauhid.

 

Lalu kita mungkin bertanya-tanya, "Lho, bukannya ahli maksiat dan kabair itu kekurangan sikap merasa dilihat oleh Allah (muraqabah)?! Bukankah sikap semisal itu justru merupakan kurangnya tauhid dia?!"
Jawabannya: 

 

Pertama:

Zahirnya memang begitu. Namun sekali lagi, hanya Allah Ta'ala yang mengetahui persis hati seseorang ketika bermaksiat. Adakalanya seorang muslim muwahhid bermaksiat namun hatinya mencela dirinya, merasa bersalah dan berharap Allah Ta'ala menolong dirinya berhenti darinya. Hal-hal ini gaib bagi orang lain, tapi sangat tampak bagi Allah Ta'ala. Zahirnya di mata kita memang ahli maksiat itu -dikhawatirkan kita termasuk- tidak punya sikap muraqabah dan kurang tauhidnya. Tapi apa yang ada di mata kita belum tentu sama persis dengan apa yang dia rasakan di hatinya. 


Kita dimaklumi menilai seorang Muslim sesuai zahirnya ia. Namun kita tidak bisa menilai persis batinnya ia. 
Berangkat dari itu pula, kita tidak bisa mengatakan setelah wafatnya, ia disiksa di kuburnya atau tidak, ia masuk Neraka atau tidak. Karena itu sama sekali hal gaib bagi kita. Jangan nasib orang lain, nasib kita sendiri kita belum mengetahuinya.

 

Kedua:

Atau kita katakan: mungkin ia memiliki banyak dosa besar, namun sekalinya ia beramal, ia sangat menjaganya dan sangat ikhlas dengan tauhidnya. Seperti kisah pelacur dari kalangan Bani Israil yang menolong anjing kehausan. Dihapus dosa-dosanya karena ikhlasnya dalam beramal. Juga kisah seorang pria dihapus dosa-dosanya karena menyingkirkan ranting dari jalan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- mengatakan:

 

فَهَذِهِ سَقَتِ الْكَلْبَ بِإِيمَانٍ خَالِصٍ كَانَ فِي قَلْبِهَا فَغُفِرَ لَهَا، وَإِلَّا فَلَيْسَ كُلُّ بَغِيٍّ سَقَتْ كَلْبًا يُغْفَرْ لَهَا. وَكَذَلِكَ هَذَا الَّذِي نَحَّى غُصْنَ الشَّوْكِ عَنِ الطَّرِيقِ، فَعَلَهُ إِذْ ذَاكَ بِإِيمَانٍ خَالِصٍ، [وَإِخْلَاصٍ] قَائِمٍ بِقَلْبِهِ ، فَغُفِرَ لَهُ بِذَلِكَ

"Wanita ini memberi minum anjing, dengan iman yang murni yang ada di hatinya, maka Allah mengampuninya. Kalau tidak (karena iman yang murni), maka tidaklah semua pelacur yang memberi minum anjing berarti diampuni begitu saja. Begitu juga pria yang menyingkirkan ranting berduri dari jalanan. Ia melakukannya dengan iman yang murni dan ikhlas ada di hatinya. Maka ia pun diampuni." [Minhaj as-Sunnah, 6/221]

Maka, ajarkan pada diri sendiri ilmu tauhid dan penerapannya dengan mantap. Bukan berarti silakan bermaksiat. Namun betapa banyaknya orang celaka karena merasa aman. Betapa banyaknya orang selamat karena selalu waspada.


Ditulis oleh Ust Hasan al-Jaizy