BERSYUKUR ATAS NIKMAT AFIYAH

Pernahkah kita bertemu dengan seorang yang membanggakan mobil mewahnya, rumah mewahnya dan hartanya? Boleh jadi kita akan menjawab ‘sering’. Tapi sekiranya mereka (dan juga kita) tidak diberikan kesehatan, apakah segala kebanggaan itu berarti?! Sekiranya kita melihat seorang yang dikenal sebagai milyuner, tidak selamat dari beragam penyakit dan mendekam di rumah sakit, masihkah kita agungkan kekayaan dia?!

 

Saudaraku, ada kenikmatan besar yang banyak sekali manusia tidak meresapi bahkan tidak menyadarinya. Ia adalah nikmat sehat dan afiyah (keselamatan). Inilah nikmat yang kehidupan tidak enak kecuali dengannya. Inilah nikmat yang juga disebut hasanah di kehidupan dunia. Allah Ta’ala berfirman:

 

ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุฑูŽุจู‘ูŽู†ูŽุง ุขุชูู†ูŽุง ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽูููŠ ุงู„ู’ุขุฎูุฑูŽุฉู ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ูˆูŽู‚ูู†ูŽุง ุนูŽุฐูŽุงุจูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุฑู 

 

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".” [Q.S. Al-Baqarah, ayat 201]

 

Qatadah rahimahullah berkata:

ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ุงู„ู’ุนูŽุงูููŠูŽุฉู ูููŠ ุงู„ุตู‘ูุญู‘ูŽุฉู ‌ูˆูŽูƒูŽููŽุงูู ‌ุงู„ู’ู…ูŽุงู„ู

“Kebaikan dunia adalah kesehatan dan kecukupan harta.”[1]

 

Jika kita renungkan sebagian doa yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka kita temukan banyak sekali permohonan beliau untuk diberikan afiyah (keselamatan) dari bencana, penyakit dan keburukan. Di antara doa yang tidak pernah ditinggalkan oleh beliau:

 

ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุนูŽุงูููŠูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉูุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุณู’ุฃูŽู„ููƒูŽ ุงู„ุนูŽูู’ูˆูŽ ูˆูŽุงู„ุนูŽุงูููŠูŽุฉูŽ ูููŠ ุฏููŠู†ููŠ ูˆูŽุฏูู†ู’ูŠูŽุงูŠูŽ ูˆูŽุฃูŽู‡ู’ู„ููŠ ูˆูŽู…ูŽุงู„ููŠุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุณู’ุชูุฑู’ ุนูŽูˆู’ุฑูŽุงุชููŠ ูˆูŽุขู…ูู†ู’ ุฑูŽูˆู’ุนูŽุงุชููŠุŒ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุญู’ููŽุธู’ู†ููŠ ู…ูู†ู’ ุจูŽูŠู’ู†ู ูŠูŽุฏูŽูŠู‘ูŽ ูˆูŽู…ูู†ู’ ุฎูŽู„ู’ูููŠุŒ ูˆูŽุนูŽู†ู’ ูŠูŽู…ููŠู†ููŠ ูˆูŽุนูŽู†ู’ ุดูู…ูŽุงู„ููŠุŒ ูˆูŽู…ูู†ู’ ููŽูˆู’ู‚ููŠุŒ ูˆูŽุฃูŽุนููˆุฐู ุจูุนูŽุธูŽู…ูŽุชููƒูŽ ุฃูŽู†ู’ ุฃูุบู’ุชูŽุงู„ูŽ ู…ูู†ู’ ุชูŽุญู’ุชููŠ

 

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah di dunia dan akhirat. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon ampunan dan terbebas dari masalah dalam urusan agama, dunia, keluarga dan hartaku. Ya Allah, tutupilah auratku dan tenangkanlah aku dari rasa takut. Ya Allah! Jagalah aku dari arah muka, belakang, kanan, kiri dan dari atasku, dan aku berlindung dengan kebesaranMu, agar aku tidak dihancurkan dari bawahku.” [2]

 

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata:

 

ูˆู‚ุฏ ุจุฏุฃ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‡ุฐุง ุงู„ุฏุนุงุกูŽ ุงู„ุนุธูŠู…ูŽ ุจุณูุคุงู„ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุนุงููŠุฉ ููŠ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุงู„ุขุฎุฑุฉุŒ ูˆุงู„ุนุงููŠุฉู ู„ุง ูŠูŽุนุฏูู„ูู‡ุง ุดูŠุกูŒุŒ ูˆู…ู† ‌ุฃูุนุทูŠ ‌ุงู„ุนุงููŠุฉูŽ ‌ููŠ ‌ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุงู„ุขุฎุฑุฉ ูู‚ุฏ ูƒูŽู…ูู„ูŽ ู†ูŽุตููŠุจูู‡ ู…ู† ุงู„ุฎูŠุฑ

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah memulai doa agung ini dengan memohon kepada Allah al-afiyah di dunia dan akhirat. Keselamatan itu tidak ada yang sama dengannya. Sesiapa diberi keselamatan dunia dan akhirat, maka lengkap sudah bagiannya dari kebaikan.” [3]

 

Segala kenikmatan terkumpul dalam keselamatan. Seseorang bisa menikmati kenikmatan dengan rasa aman, sehat jasmani dan tenang rohani. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุตู’ุจูŽุญูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ุขู…ูู†ู‹ุง ูููŠ ุณูุฑู’ุจูู‡ูุŒ ู…ูุนูŽุงูู‹ู‰ ูููŠ ุฌูŽุณูŽุฏูู‡ูุŒ ุนูู†ู’ุฏูŽู‡ู ู‚ููˆุชู ูŠูŽูˆู’ู…ูู‡ูุŒ ููŽูƒูŽุฃูŽู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุญููŠุฒูŽุชู’ ู„ูŽู‡ู ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง

 

Barangsiapa di antara kalian yang memasuki waktu pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah oleh dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya.” [4]

 

Maka saudaraku, mengetahui kunci bahagia itu begitu mudah. Namun karena banyaknya kelalaian, dosa dan tidak memanfaatkan kenikmatan untuk ketaatan, rasa syukur telah dicabut dari banyak hamba Allah Ta’ala. Semua mencari kebahagiaan padahal kebahagiaan itu ada pada rasa syukurnya. Semua mencari kenikmatan padahal yang dicari sudah diberi.

 

Jika kesehatan dan keselamatan adalah kenikmatan yang sangat besar dan mulia dari Allah Ta’ala, maka wajib bagi hamba untuk berusaha sekuat usaha untuk mensyukuri nikmat tersebut. Di antara bentuk syukur adalah memanfaatkan kenikmatan untuk menjalani ketaatan kepada Allah Ta’ala. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam shalat malam hingga melepuh kedua kaki beliau. Para sahabat menanggapi, “Allah telah mengampuni dosamu di masa lalu dan di masa hadapan!” Namun beliau kemudian berkata:

 

ุฃูŽููŽู„ูŽุง ุฃูŽูƒููˆู†ู ุนูŽุจู’ุฏู‹ุง ุดูŽูƒููˆุฑู‹ุงุŸ

“Tidakkah aku menjadi hamba yang sangat bersyukur?!”

 

Dan selagi memanfaatkan nikmat dan kesehatan yang Allah berikan, perlu diingat bahwa nikmat di dunia ini tidak selamanya. Nikmat abadi hanya ada di Surga. Namun seorang hamba pun tetap dianjurkan untuk memohon kepada Allah Ta’ala agar nikmat dari-Nya tidak hilang. Sebagaimana doa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

 

ุงู„ู„ู‡ูู…ู‘ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูŽุนููˆุฐู ‌ุจููƒูŽ ‌ู…ูู†ู’ ‌ุฒูŽูˆูŽุงู„ู ู†ูุนู’ู…ูŽุชููƒูŽุŒ ูˆูŽุชูŽุญูŽูˆู‘ูู„ู ุนูŽุงูููŠูŽุชููƒูŽุŒ ูˆูŽููุฌูŽุงุกูŽุฉู ู†ูู‚ู’ู…ูŽุชููƒูŽุŒ ูˆูŽุฌูŽู…ููŠุนู ุณูŽุฎูŽุทููƒูŽ

“Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari hilangnya nikmat dari-Mu, hilangnya keselamatan dari-Mu, mendadaknya adzab-Mu dan segala kemurkaan-Mu.”[5]

 

Dan doa tersebut menjadi penutup tulisan ini. Semoga Allah jaga kita dari fitnah dan keburukan dunia dan akhirat. Baarakallahu fiikum.

 

 

 Ditulis Oleh  :

Ust. Hasan Al Jaizy

 

 


[1] Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 2/432

[2] H.R. Abu Daud, no. 5074

[3] Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar, 3/27

[4] H.R. At-Tirmidzy, no. 2346. Hadits hasan.

[5] H.R. Muslim, no. 2739.