APAKAH SIFAT-SIFAT ALLAH TERMASUK PERKARA MUTASYABIHAT

Di antara hal yang perlu diketahui sedari awal adalah klasifikasi perkara mutasyabih. Mutasyabih terbagi menjadi dua:

 

  1. Mutasyabih kully haqiqy, yaitu perkara samar secara menyeluruh yang tidak diketahui hakekat dan bagaimananya kecuali Allah.
  2. Mutasyabih nisby idhafy, yaitu perkara samar secara relatif yang diketahuioleh  sebagian manusia dan tidak diketahui oleh sebagian lainnya.

 

Berangkat dari klarifikasi tersebut, maka tidak tepat memutlakkan begitu saja perkataan bahwasanya sifat-sifat Allah termasuk perkara mutasyabih. Itu tidak benar jika dimutlakkan, melainkan harus ada perincian terhadapnya.

 

Ketahuilah, bahwasanya sifat-sifat Allah memiliki dua tinjauan:

 

Tinjauan pertama: dari sisi makna sifat Allah.

 

Tinjauan kedua: dari sisi tata cara atau bagaimana sifat Allah, yang biasa disebut dengan kaifiyah.

 

 

Meninjau Sifat Allah Dari Sisi Maknanya

 

Sifat Allah jika ditinjau dari sisi maknanya, maka ia maklum dan diketahui oleh kita. Tidak ada sesuatu pun dari nash syariat (al-Qur’an dan as-Sunnah) yang tidak satu pun manusia tidak mengetahui maknanya. Dari sisi makna, dalil-dalil sifat Allah keseluruhannya bukanlah merupakan perkara mutasyabih secara total (kully haqiqy) yang hanya diketahui oleh saja tanpa hamba-Nya, baik dari kalangan salaf maupun para pengikut mereka.

 

Memang benar, kenyataannya perkara sifat Allah Ta’ala kadang samar dan tidak difahami maknanya oleh sebagian manusia. Ini merupakan wujud mutasyabih secara nisby (relatif), yang sekiranya mereka bertanya kepada para ulama, maka mereka akan mendapatkan ilmu tentangnya dan memahaminya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุฑูŽุฏู‘ููˆู‡ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู„ู ูˆูŽุฅูู„ูŽู‰ ุฃููˆู„ููŠ ุงู„ู’ุฃูŽู…ู’ุฑู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ ู„ูŽุนูŽู„ูู…ูŽู‡ู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู†ูŽ ูŠูŽุณู’ุชูŽู†ู’ุจูุทููˆู†ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’

“Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri).” [Q.S. An-Nisa, ayat 83]

 

Meninjau Sifat Allah Dari Sisi Kaifiyah

 

Adapun sifat Allah jika ditinjau dari sisi tata cara dan kaifiyah, maka tidak diketahui oleh kita. Hal ini disebabkan kebagaimanaan sifat Allah Ta’ala hanyalah diketahui oleh-Nya saja, sebagaimana ilmu tentang kapan tepatnya terjadi Hari Kiamat. Begitu juga tentang bagaimana kehidupan Barzakh, kehidupan di Surga atau Neraka, dan seluruh perkara gaib bagi manusia. Kendatipun dijabarkan dan dikisahkan tentang semua itu dalam dalil, namun bagaimana tepatnya tidaklah diketahui oleh manusia selama hidup di dunia ini.

 

Berangkat dari tinjauan sisi kaifiyah, maka benar jika dikatakan bahwa sifat Allah Ta’ala merupakan perkara mutasyabih. Namun maksudnya adalah mutasyabih kully yang hanya Allah-lah yang mengetahuinya.

 

Maka, sifat-sifat Allah Ta’ala adalah perkara yang diketahui oleh kita dari satu sisi, namun tidak diketahui oleh kita dari satu sisi lainnya. Makna dari sifat ma’lum (diketahui), sedangkan bagaimananya ia majhul (tidak diketahui). Di antara hadits yang menguatkan pemahaman ini adalah perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

 

ูˆููŠ ุฌู‡ู†ู… ูƒู„ุงู„ูŠุจ ู…ุซู„ ุดูˆูƒ ุงู„ุณุนุฏุงู†ุŒ ู‡ู„ ุฑุฃูŠุชู… ุดูˆูƒ ุงู„ุณุนุฏุงู†ุŸ

“Di Jahannam ada kalalib (besi-besi yang ujungnya bengkok) seperti duri Sa’dan. Apa kalian pernah melihat duri Sa’dan?”

 

Para sahabat menjawab, “Iya.”

 

ูุฅู†ู‡ุง ู…ุซู„ ุดูˆูƒ ุงู„ุณุนุฏุงู†ุŒ ุบูŠุฑ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠุนู„ู… ู‚ุฏุฑ ุนุธู…ู‡ุง ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ุŒ ุชุฎุทู ุงู„ู†ุงุณ ุจุฃุนู…ุงู„ู‡ู…

“Sungguh kalalib tersebut seperti duri Sa’dan. Hanya saja, tak ada yang tahu seberapa besar kadarnya kecuali Allah Ta’ala. Duri tersebut akan menusuk-nusuk manusia berdasarkan amalan mereka.”[1]

 

Allah Ta’ala juga berfirman melalui sebuah hadits qudsi:

 

ุฃูŽุนู’ุฏูŽุฏู’ุชู ‌ู„ูุนูุจูŽุงุฏููŠ ‌ุงู„ุตู‘ูŽุงู„ูุญููŠู†ูŽ ู…ูŽุง ู„ูŽุง ุนูŽูŠู’ู†ูŒ ุฑูŽุฃูŽุชู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฃูุฐูู†ูŒ ุณูŽู…ูุนูŽุชู’ุŒ ูˆูŽู„ูŽุง ุฎูŽุทูŽุฑูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูŽู„ู’ุจู ุจูŽุดูŽุฑู

 

Aku telah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya dan terbetik dari lubuk hati manusia.”[2]

 

Dari penjelasan di atas, maka kita bisa mengetahui ketidaktepatan pihak yang memutlakkan kalam bahwasanya sifat-sifat Allah Ta’ala termasuk perkara mutasyabih serta tidak membedakan antara makna dan kaifiyah. Di antara ulama yang melakukannya adalah Ibnu Qudamah rahimahullah. Beliau mengatakan:

 

ูˆุงู„ุตุญูŠุญ: ุฃู† ุงู„ู…ุชุดุงุจู‡: ู…ุง ูˆุฑุฏ ููŠ ุตูุงุช ุงู„ู„ู‡ -ุณุจุญุงู†ู‡- ู…ู…ุง ูŠุฌุจ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ุจู‡ุŒ ูˆูŠุญุฑู… ุงู„ุชุนุฑุถ ู„ุชุฃูˆูŠู„ู‡

 

“Yang shahih: Mutasyabih adalah segala yang ada dari dalil perihal sifat-sifat Allah Ta’ala yang wajib diimani dan haram untuk dijadikan lahan ta’wil.”[3]

 

Begitu pula yang telah dilakukan oleh as-Suyuthy rahimahullah. Beliau mengatakan:

 

ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุชูŽุดูŽุงุจูู‡ู ุขูŠูŽุงุชู ุงู„ุตู‘ูููŽุงุชู

“Termasuk di antara perkara mutasyabih: ayat-ayat sifat (Allah).”[4]

 

Sebagian dari ulama menjadikan asma dan sifat Allah sebagai perkara mutasyabih dengan pertimbangan dan alasan bahwasanya menafsirkannya sesuai makna dekat (zahir) tidaklah pantas untuk hak Allah Ta’ala, karena itu melazimkan tasybih dan tamtsil. Dengan sebab tersebut, akhirnya makna zahir dialihkan menuju ta’wil.

 

Kembali kita katakan: memutlakkan asma dan sifat Allah sebagai perkara mutasyabih tidaklah tepat, melainkan perlu perincian. Sebagian ahlul bid’ah menjadikan terma mutasyabih sebagai alasan untuk ta’wil bahkan tafwidh. Maka Ahlus Sunnah adalah pihak yang paling adil dan inshaf. Wallahu a’lam.

 

[Artikel ini adalah terjemahan bebas dari salah satu pembahasan di kitab Ahadits al-Aqidah al-Mutawahham Isykaluha fi ash-Shahihayn Jam’an wa Dirasatan karya Syaikh Dr. Sulaiman ad-Dubaikhy, dengan judul pembahasan: ู‡ู„ ุตูุงุช ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู† ู‚ุจูŠู„ ุงู„ู…ุชุดุงุจู‡ yang ada di halaman 69. Kami -Hasan al-Jaizy- pun menambahkan beberapa hal dalam tulisan ini yang semoga bermanfaat.]

 

 

 


[1] H.R. Al-Bukhary, no. 773 dan Muslim, no. 182.

[2] H.R. Al-Bukhary, no. 3072 dan Muslim, no. 2824.

[3] Raudhah an-Nazhir wa Junnah al-Munazhir, 1/215

[4] Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, 3/14. Dalam kitab tersebut, khususnya di bab fi al-Muhkam wa al-Mutasyabih, as-Suyuthy rahimahullah menjabarkan secara luas penafsiran-penafsiran terhadap beberapa sifat Allah Ta’ala, dan memenangkan madzhab ahli tafwidh maupun ahli ta’wil.