Amalanmu Sudah Berkualitas?

Tujuan menuntut ilmu adalah surga. Ilmu dan amalan yang shahih adalah sebab pengantar seseorang kepada Surga. Nabi Muhammad bersabda:


ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู„ูŽูƒูŽ ุทูŽุฑููŠู‚ู‹ุง ูŠูŽู„ู’ุชูŽู…ูุณู ูููŠู‡ู ุนูู„ู’ู…ู‹ุงุŒ ุณูŽู‡ู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ู„ูŽู‡ู ุจูู‡ู ุทูŽุฑููŠู‚ู‹ุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉู

“Barang siapa yang menempuh jalan guna menimba ilmu, niscaya Allah akan mudahkan baginya berkat amalan ini jalan menuju ke surga.” [H.R. Muslim, no. 2699]

 
Untuk itu, maka kita harus selalu menuntut ilmu agar amalan kita menjadi lebih baik dan berpahala.Iman tanpa amal tidak akan benar. Berbeda dengan aqidah Murji'ah. Bagi mereka, iman itu tidak harus ada pembuktian amal perbuatan. Juga, perbuatan tidak berpengaruh terhadap kadar keimanan. Ini jelas menyimpang. Abu Bakr ash-Shiddiq pernah berkata:


ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฅููŠู‘ูŽุงูƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจูŽ ููŽุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุฐูุจูŽ ู…ูุฌูŽุงู†ูุจูŒ ู„ูู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ู

“Wahai orang sekalian, jauhilah oleh kalian berbohong. Sesungguhnya berbohong menyelisihi iman.” [Musnad Ahmad, 1/198]

Itu sebagaimana aqidah Ahlus Sunnah yang meyakini bahwa amalan berpengaruh terhadap iman. Amalan buruk semisal berbohong pun bisa menyelisihi iman dan mengurangi kadarnya.

Maka, tidak mungkin seseorang bisa masuk surga kecuali dengan penyebab yang Allah tetapkan, yaitu amalan. Namun penyebab ini (yaitu amal perbuatan) tidak bisa berdiri sendiri melainkan semua bergantung pada Allah Ta’ala. Jika Ia merahmati, maka diterimalah amalan tersebut dan diganjari kebaikan yaitu Surga. 

Semua amalan yang kita harapkan akan diterima oleh Allah, membutuhkan ilmu dan keikhlasan. Jika memahami begitulah adanya, maka jangan pernah berhenti menuntut ilmu dan jangan pernah merasa sudah cukup amalnya.

Semua amalan yang kita harapkan akan diterima oleh Allah, membutuhkan ilmu dan keikhlasan. Jika memahami begitulah adanya, maka jangan pernah berhenti menuntut ilmu dan jangan pernah merasa sudah cukup amalnya.

 

Ditulis oleh Ust. Hasan al-Jaizy