YANG MUSTAHIL PUN ALLAH TAHU

PERTANYAAN
Apakah Allah Ta’ala mengetahui segala hal yang tidak mungkin terjadi?

JAWABAN

Bismillah.
Di antara nama Allah Yang Mulia adalah al-Alim dan al-Khabir. Kedua nama tersebut menunjukkan sifat ilmu milik-Nya. Sebagaimana semua sifat Allah, maka sifat ilmu-Nya mestilah sempurna, tanpa cacat sedikitpun. 


Allah Ta’ala mengilmui segala sesuatu. Tidak satupun hal yang tersembunyi dari-Nya, setitik pun itu baik di langit dan di bumi. Ia mengetahui yang jelas dan yang tersembunyi bagi makhluk. Ia mengetahui segala ucapan dan bisikan, baik melalui lisan ataupun terselubung di hati.

Allah Ta’ala mengetahui: [1] Apa yang telah terjadi  [ما كان], [2] apa yang sedang terjadi [ما يكون], [3] apa yang akan terjadi [ما سيكون], [4] apa yang belum pernah terjadi yang sekiranya pernah terjadi, ia mengetahui bagaimana ia terjadi [ما لم يكن لو كان كيف يكون] dan [5] apa yang tidak mungkin terjadi sekiranya itu dipaksakan terjadi, ia mengetahui bagaimana itu akan terjadi [ما لا يمكن أن يكون لو فرض كونه كيف سيكون].

Kelima hal tersebut penting untuk dicermati. Maka, semoga Allah berikan taufiq atas penjelasan kami berikut:


1. Allah mengetahui apa yang telah terjadi [ما كان]

Maksudnya adalah ilmu-Nya mengenai segala keterjadian dan hal di masa lampau, sebagaimana yang ditunjukkan di kisah-kisah al-Qur’an mengenai umat di masa lalu. Makhluk di masa kini atau kapanpun tidak mengetaui kabar masa lalu kecuali jika Allah kehendaki mereka untuk mengetahuinya, baik melalui wahyu atau perantara lainnya. 


Di antara contohnya adalah firman Allah Ta’ala tentang kisah Nabi Zakariya dan Maryam:


ذَٰلِكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ ۚ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يُلْقُونَ أَقْلَٰمَهُمْ أَيُّهُمْ يَكْفُلُ مَرْيَمَ وَمَا كُنتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ

“Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” [Q.S. Ali Imran: 44]


Nabi Muhammad tidaklah mengetahui sebelumnya keterjadian di masa Nabi Zakariya dan Maryam hidup. Allah Ta’ala mengetahuinya dan memberitahu beliau melalui wahyu.

2. Allah mengetahui apa yang sedang terjadi [ما يكون]

Di antara contohnya adalah firman Allah Ta’ala:


ٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنثَىٰ وَمَا تَغِيضُ ٱلْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ ۖ

“Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah.” [Q.S. Ar-Ra’d: 8]

Apa yang sedang teralami oleh perempuan mengandung, diketahui oleh Allah Ta’ala. Bahkan dari sisi yang tidak bisa diketahui perempuan tersebut, yakni cacatnya atau sempurnanya, Allah mengetahui dengan persis dan detail. 

3. Allah mengetahui apa yang akan terjadi [ما سيكون]

Maksudnya adalah ilmu-Nya mengenai segala keterjadian dan hal di masa hadapan, sebagaimana yang ditunjukkan di kisah-kisah al-Qur’an perihal akhir zaman, Hari Kiamat, Surga dan Neraka. Sementara ilmu makhluk sangat terbatas dan sedikit. Hari Kiamat, tak seorang pun tahu kapan terjadinya. Ia adalah masa depan seluruh insan. Namun Allah mengetahuinya secara detail. Firman Allah Ta’ala:


إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat.” [Q.S. Luqman: 34]

 

4. Allah mengetahui apa yang belum pernah terjadi yang sekiranya pernah terjadi, ia mengetahui bagaimana ia terjadi [ما لم يكن لو كان كيف يكون]

Maksudnya adalah ilmu-Nya tentang segala mumkinat (hal yang mungkin terjadi) namun belum pernah terjadi. Sekiranya hal yang mungkin terjadi itu terjadi, ia mengetahui bagaimana terjadinya dan apa yang terhasilkan dengannya. 


Misalnya: orang-orang kafir ketika melihat dahsyatnya adzab Neraka, mereka menyesali masa lalu dan memohon sekiranya mereka dikembalikan ke dunia. Mereka berjanji jika dikembalikan ke dunia, mereka akan beriman dan beramal salih. Dikembalikannya mereka ke dunia bukanlah hal yang sulit bagi Allah al-Qadir. Namun Allah al-Alim mengetahui, sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, maka takkan mereka beriman dan menjadi shalih seperti janji mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

وَلَوْ رُدُّوا۟ لَعَادُوا۟ لِمَا نُهُوا۟ عَنْهُ

“Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya.” [Q.S. Al-An’am: 28]


Syaikh Umar al-Asyqar mengatakan:


فالله يعلم أن هؤلاء المكذبين الذين يتمنون في يوم القيامة الرجعة إلى الدنيا أنهم لو عادوا إليها لرجعوا إلى تكذيبهم وضلالهم.

“Allah mengetahui bahwa mereka para mukadzdzibin (yang mendustakan agama) yang berandai di Hari Kiamat agar dikembalikan ke dunia, jika mereka dikembalikan kepadanya, pastilah mereka kembali ke pendustaan mereka (terhadap agama) dan kesesatan mereka.” [Al-Qadha’ wa al-Qadar, hal. 27]


5. Allah mengetahui apa yang tidak mungkin terjadi sekiranya itu dipaksakan terjadi, ia mengetahui bagaimana itu akan terjadi [ما لا يمكن أن يكون لو فرض كونه كيف سيكون].

Maksudnya adalah ilmu tentang segala mumtani’at (hal-hal mustahil) yang tak mungkin terjadi; yang sekiranya itu dipaksakan terjadi, ia mengetahui bagaimana itu akan terjadi. 


Misalnya: keberadaan Tuhan selain Allah. Allah Ta’ala berfirman:


لَوْ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” [Q.S. Al-Anbiya: 22]

Abu al-Husain al-Imrany berkata dalam menafsirkan ayat tersebut:

لوقع الخلاف والتضاد كما نرى ذلك في الشاهد في ملوك الدنيا

“(Yakni) terjadi perselisihan dan pertentangan (antara Tuhan satu dan lainnya), sebagaimana kita lihat kenyataan tersebut di para raja dunia.” [Al-Intishar fi ar-Radd ala al-Mu’tazilah al-Qadariyyah al-Asyrar, 2/330]


Allah Ta’ala berfirman:


مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٍۢ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًۭا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍۭ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ ۚ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain.” [Q.S. Al-Mu’minun: 91]

 

Semoga dengan penjelasan di atas, kita bisa mengetahui bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu secara sempurna.

 

Ditulis oleh Ust. Hasan al-Jaizy

 

Referensi:
- Al-Qur’an al-Karim
- Al-Intishar fi ar-Radd ala al-Mu’tazilah al-Qadariyyah al-Asyrar, Abu al-Husain al-Imrany
- Al-Qadha’ wa al-Qadar, Umar al-Asyqar
- Qalb al-Adillah ala ath-Thawa’if al-Mudhillah fi Tauhid ar-Rububiyyah wa al-Asma’ wa ash-Shifat, Tamim bin Abdul Aziz al-Qadhy