Waswas Namun Berpahala

Waswas adalah suatu penyakit dan ujian (ibitla') dari Allah al-Ghaffar. Obatnya adalah ilmu, kesabaran dan amalan shaleh. Sesiapa yang mengobati waswas dengan berusaha menuntut ilmu, bersabar dan beramal saleh, maka akan mendapatkan ganjaran besar. 

Waswas tersebut bisa disebabkan penyakit, musibah atau celaan. Termasuk pula waswas: ragu-ragu antara membalas celaan atau menahan diri; melanjutkan perdebatan atau menghentikannya. 

Ibnu Abbas pernah berkata kepada Atha' bin Abu Rabah; "Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?" jawabku; "Tentu." Dia berkata; "Wanita berkulit hitam ini, dia pernah menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sambil berkata; "Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku." 

Beliau bersabda:

إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ

"Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu berkenan, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu." 

Ia berkata; "Baiklah aku akan bersabar." Wanita itu berkata lagi; "Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap." Maka beliau mendoakan untuknya."  [H.R. Al-Bukhary dan Muslim]

Wanita tersebut mendapatkan rasa waswas disebabkan penyakitnya, dan beliau memilih bersabar demi meraih janji Rasulullah, yaitu Surga. 

Sahabat Abu Hurairah berkata, "Sekelompok manusia dari kalangan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam datang, maka mereka bertanya kepada beliau, 'Sesungguhnya kami mendapatkan dalam diri kami sesuatu yang salah seorang dari kami merasa besar (khawatir) untuk membicarakannya? ' 

Beliau menjawab: 'Benarkah kalian telah mendapatkannya? ' Mereka menjawab, 'Ya.' 

Beliau bersabda: 

ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ

"Itu adalah keimanan yang murni." [H.R. Muslim]

Syaikhul Islam berkata:

حُصُولِ هَذَا الْوَسْوَاسِ مَعَ هَذِهِ الْكَرَاهَةِ الْعَظِيمَةِ لَهُ وَدَفْعِهِ عَنْ الْقَلْبِ هُوَ مِنْ صَرِيحِ الْإِيمَانِ؛ كَالْمُجَاهِدِ الَّذِي جَاءَهُ الْعَدُوُّ فَدَافَعَهُ حَتَّى غَلَبَهُ؛ فَهَذَا أَعْظَمُ الْجِهَادِ وَ " الصَّرِيحُ " الْخَالِصُ كَاللَّبَنِ الصَّرِيحِ. وَإِنَّمَا صَارَ صَرِيحًا لَمَّا كَرِهُوا تِلْكَ الْوَسَاوِسَ الشَّيْطَانِيَّةَ وَدَفَعُوهَا فَخَلَصَ الْإِيمَانُ فَصَارَ صَرِيحًا.

"Terdapatkannya waswas tersebut bersama dengan rasa benci yang besar dan berusaha mengenyahkannya dari hati adalah tanda keimanan yang murni. Ibaratnya seperti seorang mujahid yang didatangi oleh musuh lalu ia berusaha untuk mempertahankan diri hingga mengalahkannya. Ini adalah sebesar-besar jihad. "Sharih" maknanya adalah 'murni', seperti "al-laban ash-shariih" (susu murni). Iman menjadi murni ketika membenci waswas satanis itu dan melawannya, sehingga murnilah imannya." [Majmu' al-Fatawa, 7/282]

Bagi sesiapa yang mendapatkan pada dirinya waswas, maka sibukkanlah dengan ilmu yang bermanfaat, amalan yang saleh dan pergaulan yang jauh dari maksiat. Semoga Allah berikan taufiq.