TRADISI MEMBERI AGAR DIBERI

PERTANYAAN

“Sebagian awam masyarakat kita, menganggap sikap mengembalikan wadah makanan dengan kosong kepada pemberi hadiah sebagai aib. Jika tidak mengembalikan dengan adanya isi (timbal balik hadiah), maka rasanya tidak enak. Ada yang kurang dan sungkan. Apakah hal ini merupakan tradisi yang tidak bermasalah?”

 

JAWABAN

Hal ini telah ditanyakan kepada Syaikh Ali al-Ujhury –seorang ulama madzhab Maliky-, lalu beliau menyebutkan bahwa di kitab “al-Madkhal”, disebutkan:

 

وَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَتَحَفَّظَ مِنْ هَذِهِ الْعَادَةِ الْمَذْمُومَةِ الَّتِي أُحْدِثَتْ، وَهُوَ أَنْ يُهْدِيَ أَحَدُ الْأَقَارِبِ أَوْ الْجِيرَانِ طَعَامًا فَلَا يُمْكِنُ الْمُهْدَى إلَيْهِ أَنْ يَرُدَّ الْوِعَاءَ فَارِغًا، وَإِنْ رَدَّهُ فَارِغًا وَجَدَ عَلَى فَاعِلٍ ذَلِكَ وَكَانَ سَبَبًا لِتَرْكِ الْمُهَادَاةِ بَيْنَهُمَا وَلِسَانُ الْعِلْمِ يَمْنَعُ مِنْ ذَلِكَ كُلِّهِ؛ لِأَنَّهُ يَدْخُلُهُ بَيْعُ الطَّعَامِ بِالطَّعَامِ غَيْرَ يَدٍ بِيَدٍ وَيَدْخُلُهُ أَيْضًا بَيْعُ الطَّعَامِ بِالطَّعَامِ مُتَفَاضِلًا وَيَدْخُلُهُ الْجَهَالَةُ.

 

“Layak baginya untuk menjaga diri dari tradisi buruk yang diada-adakan seperti ini, yaitu kerabat atau tetangga memberi hadiah makanan dan tidak mungkin bagi yang diberi untuk mengembalikan wadahnya kosong begitu saja. Jika ia kembalikan tanpa isi, maka ada sesuatu yang tidak enak di hati orang yang mengembalikan. Ini menjadi penyebab ditinggalkannya sikap saling memberi hadiah antar keduanya. Sementara lisan ilmu (yakni: secara keilmuan fiqh) semua hal itu terlarang. Sebabnya, ia masuk ke masalah menjual makanan dengan makanan tanpa tunai (langsung). Masuk pula ke masalah menjual makanan dengan kadar berbeda. Masuk pula ke masalah al-jahalah (ketidaktahuan akan barang yang ditukar/diperjual belikan).

 

Jika kemudian ditanggapi: “Namun ini bukan termasuk jual beli, melainkan termasuk hadiah! Dan hal semacam ini bukankah dilonggarkan dalam masalah hadiah?!

 

Maka dikatakan kembali:

 

فَالْجَوَابُ هُوَ مُسَلَّمٌ لَوْ مَشَوْا فِيهِ عَلَى مُقْتَضَى الْهَدَايَا الشَّرْعِيَّةِ لَكِنَّهُمْ يَفْعَلُونَ ضِدَّ ذَلِكَ لِطَلَبِهِمْ الْعِوَضَ فَإِنَّ الدَّافِعَ يَتَشَوَّفُ لَهُ وَالْمَدْفُوعُ إلَيْهِ يَحْرِصُ عَلَى الْمُكَافَأَةِ فَخَرَجَ بِالْمُشَاحَّةِ مِنْ بَابِ الْهَدَايَا إلَى بَابِ الْبِيَاعَاتِ

 

“Tanggapan itu bisa diterima seandainya mereka melakukannya sesuai dengan konsekuensi hadiah secara syar’i. Tetapi mereka melakukannya justru berlawanan dengan konsekuensi syar’i. Karena mereka mencari imbalan. Pemberi hadiah menanti imbalan, sementara yang diberi hadiah berhasrat untuk membalas hadiah. Maka keluarlah hal ini dengan sebab tersebut dari bab hadiah menuju bab jual beli.” [Fath al-Aliy al-Malik, 2/283]

 

Terlebih Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, dalam hadits riwayat Abu Hurairah:

تَهَادَوْا، فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تُذْهِبُ وَغَرَ الصَّدْرِ

“Saling memberi hadiahlah kalian. Sesungguhnya hadiah itu menghilangkan amarah di dada.” [H.R. Ahmad, no. 9250; at-Tirmidzy, no. 2130]

 

Ath-Thiby berkata:

وَالْهَدِيَّةَ جَالِبَةٌ لِلرِّضَا فَإِذَا جَاءَ سَبَبُ الرِّضَا ذَهَبَ سَبَبُ السُّخْطِ

“Hadiah menjadi penyebab keridhaan. Jika datang penyebab keridhaan, maka hilanglah penyebab kekesalan.” [Mirqat al-Mafatih, 5/2013]

Maka, pemberian hadiah yang justru membuat penerimanya tidak enak hati jika tidak membalas balik, bukanlah sesuatu yang baik. Terlebih jika ternyata pembalasannya tidak sesuai harapan pemberi awal. Secara kejiwaan, hal semacam ini tidak sesuai dengan tujuan awal disyariatkannya saling memberi hadiah. Maka, sebagaimana kami nukilkan sebelumnya, ada ulama yang mempermasalahkannya secara fiqh.

 

Semoga Allah jadikan kita sebagai orang yang tulus dalam memberi.

 

 

Referensi:

- Musnad al-Imam Ahmad, Ahmad bin Hanbal

- Sunan at-Tirmidzy, Abu Isa at-Tirmidzy

- Fath al-Aliy al-Malik fi al-Fatwa ala Madzhab al-Imam Malik, Muhammad Ulaiysy al-Maliky

- Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih, Ali al-Mala al-Qary