TRADISI MEMBERI AGAR DIBERI

Menunaikan shalat adalah kewajiban bagi tiap muslim aqil baligh. Allah mensyariatkan shalat untuk ditunaikan setiap hari, baik siang maupun malam, baik genap maupun ganjil dan baik wajib maupun sunnah.

Shalat memiliki efek yang bermanfaat dalam rangka mengobati penyakit-penyakit di jiwa (amraadh nafsiyyah). Ia adalah gambaran iman secara terapan (amaliyah) yang teragung. Allah memutlakkan shalat dengan sebutan ‘iman’, sebagaimana firman-Nya:



وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَٰنَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِٱلنَّاسِ لَرَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ
 

“Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (shalatmu). Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." [Q.S. Al-Baqarah: 143]


Ibnu Abbas, Ibnu Zaid dan Sa’id bin al-Musayyab –rahimahumullah- mengatakan bahwa makna iman di ayat tersebut adalah shalat. [Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, 3/169]
 

Shalat adalah gambaran terbaik yang mencerminkan adanya hubungan antara hamba dengan Rabbnya. Hamba yang shalat berdiri di hadapan Rabbnya, dengan menyeru nama-nama-Nya, mengharapkan rahmat dan keutamaan dari-Nya. Segala gerakannya bernilai tauhid, karena selalu diisi dengan dzikir ataupun doa. Inilah asas perbaikan jiwa dan sebab lepasnya ia dari kotoran dan keburukannya. Allah Ta’ala berfirman:
 

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ


“Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” [Q.S. Al-Ankabut: 45]


 

Disebabkan besarnya pengaruh shalat terhadap kejiwaan dan perbaikannya, Hudzaifah bin al-Yaman –radhiyallahu anh-menceritakan:

 


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى


“Jika ada perkara yang menyempitkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka beliau shalat.”[Ahmad, no. 23299; Abu Daud, no. 1319]


Shalat juga merupakan amalan penyejuk hati bagi Rasulullah, sebagaimana yang beliau kabarkan:


حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ


"Dijadikan kesenanganku dari dunia ada pada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk hatiku ada dalam shalat." [H.R. Ahmad, no. 12293 dan an-Nasa’i, no. 3940]


Shalat merupakan pelabuhan hati dan tambatannya dari letihnya dunia. Rasulullah mengatakan kepada Bilal:

يَا بِلَالُ، أَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ


“Wahai Bilal, rehatkan kami dengan shalat.” [H.R. Ahmad, no. 23154; Abu Daud, no. 4985]


Ibnul Atsirrahimahullah*berkata (menghikayatkan perkataan sebagian ulama):

كَانَ اشْتغالُه بالصَّلاة رَاحَةً لَهُ؛ فَإِنَّهُ كَانَ يَعّد غيرَها مِنَ الْأَعْمَالِ الدُّنيوية تَعَبًا، فَكَانَ يَسْتَرِيحُ بِالصَّلَاةِ لِماَ فِيهَا مِنْ مُناَجاة اللهِ تَعَالَى

“Bagi beliau (Rasulullah), menyibukkan diri dengan shalat adalah rehatnya beliau. Maka beliau menganggap selainnya dari amalan duniawi sebagai ‘ta’ab’ (keletihan). Beliau beristirahat dengan shalat karena di dalamnya terdapat munajat kepada Allah Ta’ala.”
[An-Nihayah fi Gharib al-Hadits, 2/274]

Maka, kami berpesan kepada muslim dan muslimah yang membaca risalah sederhana ini, agar senantiasa menjadikan shalat dan dzikir sebagai tambatan peristirahatan hati. Sesungguhnya di setiap hal yang Allah syariatkan, terdapat kebaikan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita taufiq terhadap amalan saleh dan pengampunan.


 


Ust. Hasan al-Jaizy



Referensi:
-Musnad al-Imam Ahmad, Ahmad bin Hanbal

-Sunan Abu Daud, Sulaiman as-Sijistany

-Sunan an-Nasa’i, Ahmad al-Khurasany an-Nasa’i

-An-Nihayah fi Gharib al-Hadits, al-Mubarak Ibn al-Atsir asy-Syaibany