PERBANYAK SUJUD DAN DOA

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah pemimpin dan qudwah bagi kaum Muslimin, terutama sekali para sahabat beliau radhiyallahu anhum. Kepada Rasulullah lah mereka bertanya. Dari beliau pula mereka mengambil contoh. Kadang kala mereka memohon didoakan oleh Rasulullah kebaikan. Seperti seorang wanita yang terkena suatu penyakit, memohon didoakan oleh beliau agar Allah sembuhkan. Juga Ukkasyah, yang memohon kepada beliau agar dimasukkan ke Surga tanpa hisab. 

 

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan sahabatnya agar memperbanyak sujud. Sebagaimana hadits berikut:


Rabi'ah bin Ka'b Al Aslami berkata; "Aku bermalam bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, aku juga pernah mengambilkan air wudlu' dan air untuk buang hajat untuk beliau. Lalu beliau bersabda: "Mohonlah kepadaku." Kataku; 'Aku memohon dapat bersama anda di surga'. Beliau menegaskan, 'Adakah yang lain? 'Aku menjawab, 'Itu saja'. Beliau bersabda: 


فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ


“Bantu aku untuk dirimu sendiri dengan memperbanyak sujud”. [H.R. Ahmad, Muslim, Abu Daud dan an-Nasa’i]

Adapula hadits Tsauban, yang mana Rasulullah menganjurkan sahabat beliau agar memperbanyak sujud.  Ma'dan bin Abi Thalhah al-Ya'mari  berkata, "Aku bertemu Tsauban, maula Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, lalu aku bertanya, 'Kabarkanlah kepadaku dengan suatu amal yang jika kukerjakan niscaya Allah akan memasukkanku ke dalam surga disebabkan amal tersebut, -atau dia berkata, aku berkata, 'Dengan amalan yang paling disukai Allah-, lalu dia diam, kemudian aku bertanya kepadanya, lalu dia diam kemudian dia bertanya kepadanya yang ketiga kalinya.' Dia menjawab, 'Aku telah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, maka dia menjawab:

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ، فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً، إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً، وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu bersujud kepada Allah dengan suatu sujud melainkan Allah akan mengangkatmu satu derajat dengannya, dan menghapuskan dosa darimu dengannya”.

"Ma'dan berkata, "Kemudian aku bertemu Abu ad-Darda', lalu aku bertanya kepadanya, maka dia menjawabku seperti sesuatu yang dikatakan Tsauban kepadaku." [H.R. Muslim, no. 488]

Maksud dari sujud di hadits-hadits tersebut adalah sujud secara hakiki, dan itu ada dalam shalat. Maka secara langsung, itu adalah penganjuran untuk memperbanyak shalat Sunnah.

Kenapa diungkapkan di hadits hanya sujud semata? Kenapa tidak selainnya, seperti ruku’ atau tasyahhud?

Karena sujud seseorang sama dengan merendahkan dirinya kepada Allah Ta’ala dengan sebaik-baik tawadhu’. Ia meletakkan semulia-mulia anggota tubuhnya (yaitu wajah) di atas bumi. Ia menjauhkan dirinya dari kesombongan. Maka Allah Ta’ala mengganjarinya dengan peninggian derajat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

"Keadaan seorang hamba yang paling dekat dari Rabbnya adalah ketika dia sujud, maka perbanyaklah doa." [H.R. Ahmad, no. 9461, Muslim, no. 482, Abu Daud, no. 875, dan an-Nasa’I, no. 1137]

Adanya penambahan perintah (memperbanyak doa) merupakan tambahan anjuran dan faedah bahwa pada momentum sujud, doa lebih berpotensi dikabulkan. Hadits ini pula menunjukkan kemutlakan doa di keumuman sujud. Tidak ada pengkhususan hanya di sujud terakhir dari shalat. Bahkan setiap sujud insan adalah momentum terdekatnya pada Allah. Maka berdoalah di sujud-sujud kita. Semoga Allah Ta’ala memperkenankan doa kita.

Ditulis oleh Hasan al-Jaizy