Pembelaan Terhadap Sebagian Asatidzah

Abdurrahman bin al-Mahdi rahimahullah berkata:

أهل العلم يكتبون ما لهم وما عليهم، وأهل الأهواء لا يكتبون إلا ما لهم

"Ahli ilmu, mereka menulis apa yang menguntungkan buat mereka dan apa yang tidak menguntukan buat mereka. Sedangkan ahlul ahwa' (yakni: ahlul bida') tidaklah mereka menulis kecuali apa yang menguntungkan untuk mereka." [Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim, hal. 69-60]

 

Adapun hadits Muadz bin Jabal, mengenai hak Allah atas hamba dan hak hamba atas Allah Ta'ala, beliau bertanya kepada Rasulullah apakah diperkenankan untuk menyebarkan ilmu tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam saat itu melarang untuk menyebarkannya. Maka di sini ada beberapa kemungkinan:

1. Perintah untuk menyembunyikan ilmu tersebut bukanlah secara mutlak sepanjang masa, melainkan di masa tertentu saja. Atau:

2. Perintah untuk menyembunyikan ilmu tersebut bukanlah untuk semua orang, melainkan maksudnya: 'Jangan engkau beritakan pada mereka yang dikhawatirkan akan bermudah-mudah.'

Hal ini seperti -misalnya- sebagian asatidzah tidak membuka pengajaran bertemakan takfir terhadap individu secara mu'ayyan, padahal ilmu itu ada pada mereka. Ilmu tersebut pun memiliki kepentingan dalam agama ini. Ilmu tersebut pun merupakan pengagungan terhadap tauhid dan penjagaan terhadapnya. Namun, tidak disebarluaskan secara masal dan masif. Sikap seperti ini ada dalilnya, yaitu hadits Muadz di atas.

Dan maksud dari asatidzah tersebut:

1. Tidak diajarkannya materi tersebut hanya untuk masa tertentu saja. Suatu saat, ketika memang dianggap sudah pas waktunya, ketika banyak thullab dan awam siap dan dewasa menyimak, maka mungkin akan dimulai tarbiyah berkenaan tentang takfir.

Atau:

2. Para asatidzah memiliki murid-murid khusus yang memang kesehariannya bergelut di bidang ilmu syariah. Kepada mereka asatidzah mengucurkan ilmunya tentang takfir muayyan. Kenapa tidak publish secara umum? Karena banyak anak pengajian saat ini jauh dari kedewasaan, baik dalam bersikap, maupun dalam berilmu. Ketidakdewasaan sikap kerap didukung oleh darah yang masih muda, sehingga terjadilah takfir serampangan dan adab yang kian merosot. Ini terjadi dan tidak bisa dipura-purakan akan keberadaaannya. Adapun ketidakdewasaan ilmu adalah minimnya pondasi ilmu dasar aqidah, hafalan dan pemahaman terhadap al-Qur'an dan al-Hadits, disertai jam belajar yang masih sedikit.

Anak muda, ketika disuguhkan materi yang membangkitkan semangat mereka, terlebih berkaitan dengan fenomena masyarakat, media dan hal-hal fantastis, akan mudah terhasut. Dan pastilah akan berhujjah, 'Kalau tidak sekarang, kapan lagi?! Bukankah ini semua adalah ilmu?!'

Maka perhatikanlah sikap Muadz bin Jabal yang memiliki ilmu penting pemberian Nabi soal hak-hak terbesar, beliau tidak bertanya dengan pertanyaan yang serupa. Beliau memahami. Beliau tunduk pada kebijaksanaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Adapun sebagian pemuda kini, baru sedikit diarahkan agar lebih tenang dan dewasa dalam belajar, tetibanya sudah mampu mencurigai ustadznya, bahkan mulai terhasut dengan pelabelan Murji'ah dan semisalnya. Beginilah ketidakdewasaan dari segi sikap dan ilmu.

Kehati-hatian para asatidzah hendaknya diapresiasi. Seandainya semua yang kita ketahui langsung disebarkan, maka betapa baiknya kita katakan:

"Apakah semua yang kita ANGGAP sudah kita ketahui langsung disebarkan?!"

Karena boleh jadi kita belum tahu. Atau mungkin sudah tahu, namun masih belum begitu matang bahkan terkesan terlalu mentah.

Sungguh kami sangat mencintai asatidzah Ahlus Sunnah, yang mereka saling sapa satu sama lain, saling mendukung satu sama lain, saling memberi masukan, nasehat dan pujian satu sama lain dan saling berkumpul secara nyata. Semoga kecintaan kita kepada asatidzah, thullab dan seluruh kaum Muslimin merupakan ibadah qalbiyyah yang diganjari oleh Allah Ta'ala. Seandainya yang kita cari adalah dunia, harta dan popularitas, kita sudah keletihan sejak sebelum memulai.

Waffaqakumullah. Baarakallaahu fi ulumikum.

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy