NASEHAT ANTAR KITA

Di antara bentuk hak muslim atas muslim lainnya adalah jika dia minta nasehat kepadamu, maka berikanlah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ

"Jika dia meminta nasehat darimu, maka nasehatilah." [H.R. Ahmad dan Muslim]

Lebih mudah menasehati orang yang hatinya sedang terbuka untuk nasehat dan teguran. Itu akan menjadi sangat bermanfaat untuknya. Firman Allah Ta'ala:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." [Q.S. Adz-Dzariyat: 55]

Sebaik-baik peringatan, adalah peringatan dengan al-Qur'an:

فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ

"Maka beri peringatanlah dengan Al Qur'an orang yang takut kepada ancaman-Ku." [Q.S. Qaf: 45]

Agama Islam adalah agama yang sangat kental akan nasehat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasehat.” [H.R. Ahmad, no. 16940, dan Muslim, no. 95]

Allah Ta’ala juga menyebutkan karakter sebaik-baik umat adalah yang beramar ma’ruf nahi munkar selagi beriman. Firman-Nya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ

 “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” [Q.S. Ali Imran: 110]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata dalam suatu pidato beliau:

فالتناصح والتواصي بالحق والتعاون على الخير كله من العبادات التي أمر الله بها عز وجل، وهي من وسائل السعادة، فالمؤمنون إخوة رجالهم ونساؤهم، حقٌ عليهم أن يتناصحوا، وأن يتواصوا بالحق

“Saling menasehati dan berwasiat terhadap kebenaran juga saling menolong dalam kebaikan, kesemua itu adalah ibadah yang Allah Azza wa Jalla perintahkan. Ia adalah wasilah menuju kebahagiaan. Orang-orang beriman adalah bersaudara; pria ataupun wanitanya. Wajib atas mereka saling menasehati dan berwasiat dengan kebenaran.” [Liqa’at Ma’a Thalabah al-Ilm]

Maka, saling menasehati merupakan suatu kepentingan dalam masyarakat islami.  Justru jika amar ma’ruf dan nahi munkar ditinggalkan, maka ini menyerupai ciri masyarakat Yahudi, sebagaimana Allah Ta’ala beritakan:


لُعِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُۥدَ وَعِيسَى ٱبْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ  كَانُوا۟ لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍۢ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا۟ يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israel dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” [Q.S. Al-Ma’idah: 78-79]

Semoga Allah tegukan kita kaum Muslimin untuk saling amar ma’ruf dan nahi munkar, serta melapangkan hatinya untuk menerimanya.

Ditulis oleh Hasan al-Jaizy