Menyembuhkan Hasad Dengan Mencari Akhirat

Di antara bala yang menimpa Ahlul Kitab sejak lampau adalah hasad. Dengannya, pintu hidayah tertutup untuk mereka dan mereka pun dengannya berusaha menutup pintu hidayah untuk banyak insan. Padahal kebenaran sudah tampak bagi mereka. Allah Ta'ala berfirman:

 

وَدَّ كَثِيرٌۭ مِّنْ أَهْلِ ٱلْكِتَٰبِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّنۢ بَعْدِ إِيمَٰنِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًۭا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ ٱلْحَقُّ ۖ

"Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. " [Q.S. Al-Baqarah: 109]

 

Terlebih jika hasad menjangkiti pihak yang ternisbatkan pada ilmu, seperti ulama ataupun para murid (thullab al-ilm).

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وقد يبتلى بعض المنتسبين إلى  العلم وغيرهم بنوع من الحسد لمن هداه الله بعلم نافع أو عمل صالح، وهو خلق مذموم مطلقا، وهو في هذا الموضع من أخلاق المغضوب عليهم

"Sebagian orang yang ternisbatkan kepada ilmu (yakni: ulama atau thullab al-ilm) dan lainnya kadang diuji dengan suatu macam dari hasad (kedengkian) terhadap orang yang oleh Allah diberi karuna ilmu yang bermanfaat atau amalan shalih. Secara mutlak ini merupakan perangai tercela. Dalam konteks ini, termasak perangai kaum yang dimurkai-Nya." [Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim, hal. 58]

 

Pangkal dari hasad yang tercela adalah cinta dunia. Ibnul Jauzy pernah berkata:

تأملت التحاسد بين العلماء، فرأيت منشأه من حب الدنيا، فإن علماء الآخرة يتوادون، ولا يتحاسدون

"Aku memikirkan tentang tahasud (saling hasad) antara para ulama. Maka aku pandang pangkalnya adalah cinta dunia. Sesungguhnya para ulama akhirat, mereka saling menyayangi satu sama lain. Tidak saling hasad satu sama lain." [Shayd al-Khathir, hal. 30]

 

Maksud dari para ulama akhirat adalah mereka yang mencari akhirat dalam beramal, seperti belajar, mengajar dan mendidik.

Ketika kita ketahui sumber masalah hasad dalam konteks taklim adalah cinta dunia, maka obat terbaik untuknya adalah mengingat Allah Ta'ala dan mencari ganjaran-Nya di akhirat kelak. 

Kita sangat terbiasa melihat orang yang mencari dunia -sekalipun dalam dakwah mereka-, kesulitan menerima kebenaran yang bertentangan dengan hawa nafsu mereka. Bahkan, tak jarang berbalik menentang kebenaran dan dipoles dengan ramuan retorika.

Kita juga kadang melihat orang yang jujur mencari akhirat - sekalipun awam dan jahil akan ketinggian ilmu -, Allah permudah baginya untuk menerima kebenaran.

Sehingga kita tahu bahwa keselamatan itu tidak hanya berbekal pintar semata. Yakni: pintar saja tidak cukup. Tetapi tulus dan jujur untuk Allah, adalah kunci terbesar untuk membuka pintu taufiq dan memasukinya. Bahkan, tidaklah disebut pintar orang yang tidak tulus dan jujur. Orang yang tidak tulus berarti ada maunya. Orang yang tidak jujur menandakan ada kelicikannya.

 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، ومَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ ويَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

"Wajib atas kalian berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu menunjukkan (pelakunya) kepada kebaikan, dan kebaikan itu menunjukkan kepada Surga. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur." [H.R. Al-Bukhary dan Muslim]

 

Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy