MENGENAL JALAN LURUS

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ  ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ  ٧

 

PENJELASAN KATA

[ٱهۡدِنَا] : Bimbinglah kami dan langgekangkan petunjuk kami.

[ٱلصِّرَٰطَ] : Jalan menuju ridha-Mu dan surga-Mu, yakni berserah diri kepada-mu.

[ٱلۡمُسۡتَقِيمَ] : Yang tidak melenceng dari kebenaran dan tidak menyimpang dari petunjuk.

[ٱلصِّرَٰطَ] : Jalan menuju ridha-Mu dan surga-Mu, yakni berserah diri kepada-mu.

[ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِم] : Mereka adalah para nabi, para shiddiqin (orang-orang yang benar dan teguh keimanannya) para syuhada’ dan orang-orang yang shalih¹ serta setiap orang yang diberi nikmat oleh Allah Ta’ala dengan beriman serta mengenal kepada-Nya mengenal apa-apa yang dicintai mapun yang dimurkai oleh –Nya dan diberi taufiiq untuk melaksanakan apa-apa yang dicintai-Nya dan meninggalkan apa-apa yang dibenci-Nya.

[غَيۡرِ] : Kata ghairi digunakan untuk mengecualikan², seperti halnya kata ‘Illa’.

[ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِم] : Mereka adalah orang-orang yang dimurkai oleh Allah Ta’ala disebabkan kekafiran mereka dan perbuatan mereka di muka bumi, seperti umat yahudi.

[ٱلضَّآلِّينَ]³ : Mereka salah memilih jalan kebenaran sehingga menyembah Allah Ta’ala dengan cara-cara yang tidak disyariatkan-Nya, seperti umat nasrani.

[ٱهۡدِنَا] : Bimbinglah kami dan langgekangkan petunjuk kami.

[ٱلصِّرَٰطَ] : Jalan menuju ridha-Mu dan surga-Mu, yakni berserah diri kepada-mu.

[ٱلۡمُسۡتَقِيمَ] : Yang tidak melenceng dari kebenaran dan tidak menyimpang dari petunjuk.

 

TAFSIR

TAFSIR MUYASSAR:

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ  ٦

(6)Tunjukilah kami jalan yang lurus”⁴

               Tunjukilah dan arahkanlah kami serta berilah taufik bagi kami menuju jalan yang lurus serta teguhkanlah kami diatasnya kami bertemu denganMu kelak, yaitu Islam yang merupakan jalan yang terang yang menyampaikan kepada keridhaan Allah dan kepada surgaNya, yang telah ditunjukkan oleh penutup para rasul dan NabiNya, Muhammad Maka tidak ada jalan menuju kebagaiaan bagi seorang hamba, kecuali dengan istiqamah di atas jalan tersebut.

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ  ٧

(7)Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka bukan (jalan) orang-orang yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat.

               Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan kepada mereka, dan dari kalangan para nabi, orang-orang shidiq, orang-orang yang memperoleh hidayah dan istiqamah. Dan janganlah Engkau menjadikan kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan orang-orang ang dumurkai, yaitu orang-orang yang telah mengetahui kebenaran namun tidak mengamalkannya, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang seperti mereka. (dan jangan pula Engkau menjadikan kami) termasuk orang-orang sesat, yaitu orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah karena kejahilan mereka, hingga akibanya sesat jalan, yaitu orang-orang nasrani dan orang-orang yang mengkuti jalan hidup mereka.

            Di dalam doa ini terkandung kesembuhan bagi hati seorang Muslim dari penyakit ingkar, kejahilan, dan kesesatan, juga terkandung petunjuk bahwasannya nikmat paling agung secara mutlak adalah nikmat Islam. Oleh karena itu, siapa yang lebih mengetahui kebenaran dan lebih gigih dalam mengikutinya, maka dia lebih pantah meraih (hidayah) dengan jalan yang lurus. Dan tidak ada keraguan bahwa para Sahabat Rasullah adalah orang-orang yang paling utama meraih hal itu setelah para nabi . Maka ayat ini menunjukkan keutamaan dan agungnya kedudukan mereka g

 

PELAJARAN

Diantara petunjuk yang terkandung dalam ayat ini antara lain,

  1. Pengakuan terhadap nikmat Allah
  2. Anjuran untuk mencari suri tauladan yang baik
  3. Motivasi untuk mengikuti jalan orang-orang yang shalih dan menjauhi jalan orang-orang yang tersesat
  4. Kata ‘Aamiin’ tidak termasuk surat Al-Fathah. Dianjurkan kata ini dibaca oleh imam, ketika ia selesai membaca surat Al-Fatihah. Dengan memanjangkan suaranya. Dan dibaca oleh makmum dan seseorang yang shalat sendirian, karena terdapat sabda Nabi Shalllahu Alaihi wa Sallam,

إّذ أمن الإمان فأمنو

"Apabila Sang Immam membaca ‘Aamiin’ maka bacalah ‘Aamiin’ juga."⁶

 

Yang artinya, ya Allah kabulkanlah doa kami. Dan disunnahkan untuk menyaringkan suaranya, karena ada hadist riwayat ibnu majah

 

كان النبي إذ قال : غير المفضوب عليهم ولا الضالينو , قال آمين, حتى يسمعها أهل الصف الأول فريج المسجد

Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam ketika selesai membaca “Ghairil maghdhuubi...” maka beliau membaca, “Aamiin” sehingga didengar oleh para makmum di shaf pertama, maka gemuruhlah seluruh masjid.”

 

  1. Membaca surat Al-Fatihah adalah wajib pada setiap rakaat shalat. Untuk orang yang shalat sendirian dan imam, tidak ada perbedaan pendapat dalam kewajiban ini. Adapun untuk makmum, maka menurut pendapat mayoritas ulama disunnahkan kepada makmum untuk membaca Al-Fatihah pada shalat sirriyah ( yang bacaanya pelan) dan tidak pada shalat jahriyyah (yang bacaannya dikeraskan)

 

من كان له إمام فقراءة الإمام له قراءة

"Barang siapa yang mengikuti imam, maka bacaan imamnya adalah bacaanya juga

"

Dan hadits ini men ”takhishish” (memberikan pengecualian) hadist yang berbunyi,

 

لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب

"Tak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Surat Al-Fatihah)".

 

-----------------------------------------------------

¹ Keterangan ini terdapat pada firman Allah Ta’ala,

﴿وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَٰٓئِكَ رَفِيقٗا  ٦٩

Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya maka mereka akan bersama orang-orang diberi nikmat oleh Allah dari para nabi, orang-orang shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih, dan merekalah sebaik-baiknya teman.”(QS.An-Nisaa’:69)

² Kata ‘Ghairu’ adalah kata mufrad (tunggal) dan mudhaf (digabungkan dengan kata lainnya) untuk selamanya. Dan memasukkan “al”  pada ghairu adalah salah secara bahasa, Pada aslinya, ghairu berfungsi  sebagai  kata sifat dan untuk mengecualikan.

³Adh-Dhalaal (kesesatan) adalah keluar dan menjauh dari petunjuk yang diharapkan. Menurut syariat, kesesatan ini ada dua macam; kesesatan pada bidang keyakinan dan kesesatan di bidang amal . kesesatan di bidang i’tikad yang menyalahi, baik sebagian atau seluruhnya, i’tikad Islam yang sudah dijelaskan oleh Allah Ta’ala di dalam Kitab suci-Nya atau melalui Nabi-Nya Shalallahu Alaihi Wa Sallam. Sedangkan kesesatan di bidang amal perbuatan adalah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan cara yang tidak disyariatkan oleh-Nya, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Tak ada orang yang selamat dari kesesatan ini kecuali mereka yang berbepang teguh kepada Kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Rasul Shallahu Alaihi Wa Sallam

 

jalan yang yang lurus, yaitu jalan hidup yang benar, yang dapat membuat bahagia di dunia dan di akhirat.

“Mereka yang dimurkai”, adalah kaum Yahudi dan orang-orang seperti mereka yang mengetahui kebenaran Islam, tetapi menentangya, dan “mereka yang sesat” adalah kaum Nasrani dan orang-orang seperti mereka yang tidak mengetahui kebenaran, sehingga mereka sesat.

HR.Bukhari dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah Shallahu alaihi wa Sallam bersamba,

إذ أمن الإمام فأمنو, فإنه من وأفق تأمنه تأمين الملائكة غفرله ما تقدم من دنوبه

"Apabila imam membaca ‘Aamiin’, maka bacalah kalian semuanya ‘Aamiin’, karena barangsiapa yang bacaan ‘Aamiin’-nya bersamaan dengan bacaan ‘Aamiin’ Para Makaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”

 

1. RESENSI TAFSIR MUYASSAR

Judul Asli Tafsir                          : At-Tafsir al-Muyassar

Judul Edsisi Terjemah               : TAFSIR MUYASSAR; Memahami al-Qur`an dengan Terjemahan dan penafsiran paling mudah

Penyusun                                     : Para Ahli Tafsir

(1). Dr. Hikmat Basyir.

(2). Dr. Hazim Haidar.

(3). Dr. Mushthafa Muslim.

(4). Dr. Abdul Aziz Isma’il.

 

Dikaji ulang oleh sejumlah ulama di bawah arahan:

 

Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh

 

Penerbit Edisi Terjemah          : DARUL HAQ – Jakarta

https://www.darulhaq.com/resensi-tafsir-muyassar/

 

2. RESENSI TAFSIR AL-AISAR

Judul Asli Tafsir                          : Aisar At-Tafsir

Judul Edsisi Terjemah                : Tafsir Al - Aisar

Penulis :

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

https://darus-sunnah.com/product/tafsir-al-quran-al-aisar