MEMAHAMI MA`SHUM-NYA PARA NABI

MEMAHAMI MA’SHUM-NYA PARA NABI

 

Allah Ta’ala menjadikan para Nabi-Nya ma’shum disebabkan mereka adalah orang-orang terpercaya dalam menyampaikan wahyu-Nya kepada para hamba-Nya. Allah Ta’ala jadikan mereka sebagai qudwah (tuntunan) bagi siapapun yang beriman. Sekiranya mereka tidak ma’shum, maka jadilah ada celah tudingan bahwa mereka berdusta atau tidak menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan serta melakukan hal-hal terlarang.

Namun, apa yang dimaksud dengan ma’shum untuk para Nabi?

Maksud dari ma’shum untuk para Nabi adalah terjaganya mereka dari perilaku dosa besar. Tidak akan ada pada mereka hal tersebut selamanya, baik sebelum atau sesudah pengutusan mereka sebagai Nabi.

Sebagai contoh, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebelum berusia 40, adalah seorang yang terjaga dari perilaku dosa besar, seperti minum khamr, ataupun kekufuran, seperti penyembahan terhadap berhala.

Dan begitu pula dengan seluruh Nabi dan Rasul. Al-Qadhy al-Iyadh berkata:

أجْمَع الْمُسْلِمُون عَلَى عِصْمَةِ الْأَنْبِيَاء مِن الْفَوَاحِش وَالْكَبَائِر الْمُوبِقات

“Kaum muslimin bersepakat atas terjaganya (ma’shum) para Nabi dari hal-hal keji dan dosa-dosa besar yang membinasakan.” [asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa, 2/144]

Apakah para Nabi hanya terjaga dari kekejian dan dosa-dosa besar sehingga ada kemungkinan mereka melakukan kesalahan yang lebih ringan dari itu semua? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فَإِنَّ الْقَوْلَ بِأَنَّ الْأَنْبِيَاءَ مَعْصُومُونَ عَنْ الْكَبَائِرِ دُونَ الصَّغَائِرِ هُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ وَجَمِيعِ الطَّوَائِفِ........ وَهُوَ أَيْضًا قَوْلُ أَكْثَرِ أَهْلِ التَّفْسِيرِ وَالْحَدِيثِ وَالْفُقَهَاءِ بَلْ هُوَ لَمْ يَنْقُلْ عَنْ السَّلَفِ وَالْأَئِمَّةِ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ إلَّا مَا يُوَافِقُ هَذَا الْقَوْلَ

“Pendapat bahwasanya para Nabi itu terjaga dari dosa-dosa besar (al-kaba’ir) namun tidak terjaga dari dosa-dosa kecil (ash-shagha’ir) adalah perkataan mayoritas ulama Islam dan seluruh kelompok Islam. Ia juga perkataan mayoritas ahli tafsir, ahli hadits dan ahli fiqh. Bahkan tidak pernah ternukilkan dari salaf, para imam, para sahabat, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in melainkan selalu selaras dengan pendapat tersebut (akan ma’shumnya para Nabi).” [Majmu’ al-Fatawa, 4/319]

Maka diketahuilah bahwa para Nabi terjaga dari kekejian dan dosa besar, namun tidak dari dosa atau kesalahan kecil. Jika terjadi kesalahan kecil pada diri mereka, hal tersebut pun akan ditegur oleh Allah dan mereka segera bertaubat kepada-Nya.

Dalil-dalil akan terjadinya kesalahan kecil (ash-shagha’ir) pada para Nabi pun banyak, di antaranya:

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Adam alaihissalam:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى (116) فَقُلْنَا يَاآدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى (117) إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَى (118) وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى (119) فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَاآدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى (120) فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى (121)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang. Maka kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya". Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” [Q.S. Thaha: 116-121]

Kesalahan Nabi Adam alaihissalam adalah mengikuti godaan setan untuk memakan buah dari pohon yang terlarang. Maka beliau pun segera bertaubat hingga Allah mengampuninya.

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam:

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ (15) قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (16)

“Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israel) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Firaun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). Musa mendoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Q.S. Al-Qashash: 15-16]

Kesalahan Nabi Musa alaihissalam adalah membunuh seorang Qibthy tersebut tanpa kesengajaan dan maksud membunuh. Maka beliau pun memohon ampunan Allah hingga Allah mengampuni beliau.

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Daud alaihissalam:

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَى نِعَاجِهِ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ (24) فَغَفَرْنَا لَهُ ذَلِكَ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَآبٍ (25)

“Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat lalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” [Q.S. Shad: 24-25]

Kesalahan Nabi Daud alaihissalam adalah sikap tasarru’ (tergesa-gesa) dalam berhukum sebelum mendengar dari pihak kedua dan hanya mendengar penjelasan pihak pertama. Maka beliau pun segera bertaubat kepada Allah hingga Allah pun mengampuni beliau.

Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

عَبَسَ وَتَوَلَّى (1) أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَى (2) وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّهُ يَزَّكَّى (3) أَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرَى (4)

“Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?”  [Q.S. Abasa: 1-4]

Kesalahan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah sikap kurang pedulinya beliau terhadap Abdullah bin Ummi Maktum yang buta, padahal sahabat mulia tersebut membutuhkan petunjuk beliau. Tidak seperti beberapa pemuka Quraisy yang sombong dan berpaling. Maka Allah Ta’ala menegur beliau akan hal ini.

Dalil-dalil tersebut menunjukkan dengan gamblang bahwasanya para Nabi tidak terjaga dari dosa kecil atau kesalahan kecil. Hal tersebut sama sekali tidak mengurangi manzilah dan keutamaan mereka sebagai hamba Allah yang terpilih. Karena mereka adalah manusia pula, yang memiliki kesalahan. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa".” [Q.S. Al-Kahf: 110]

Semoga Allah Ta’ala  berikan kita hidayah dan rejeki itiiba’ kepada para Nabi –alaihimussalam-.

 

Hasan al-Jaizy

9 Dzulhijjah 1440

 

Referensi:

- Al-Qur’an

- Asy-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa, al-Qadhy Iyadh

- Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah