Makhluk Berlidah Pahit

Pernah disakiti oleh lisan makhluk? Jika pernah, maka Islam punya obatnya.

 

Apalagi dalam dunia dakwah. Disakiti itu seolah suatu keniscayaan. Makanya, kian tepat justru kian disebut semacam 'menggenggam bara'. Lebih uniknya, kadang yang menyakiti itu bukan orang luar, melainkan orang yang seragam denganmu. Bahkan oleh orang yang kerap duduk di hadapan masyarakat.

 

Sakit?

 

Wajar jika iya.

 

Saya kadang menemukan beberapa orang yang fanatik kepada hawa nafsunya, ketika ada orang yang tersakiti dengan kekasaran ucapannya atau ucapan gurunya, tetibanya dengan mudah mereka mengatakan, "Mas, jangan baper! Baru gitu doang baper!" Mudah terlontar kalimat itu seolah ucapan dirinya atau gurunya tidak dihisab di Akhirat. Justru lontaran kalimat itu makin menusuk dada korban. Sadisnya, mereka tertawa di keterlukaan insan. Sampai kita kadang bertanya, "Ini makhluk didikan siapa sebenarnya? Kejam sekali taringnya. Dan untuk apa mereka ngaji?!"

 

Wajar jika ada orang sedih dan tersakiti dengan perkataan yang tajam. Allah Ta'ala saja, memaklumi ketika manusia yang paling Dia cintai menyempit dadanya. Lihat ayat berikut:

 

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ

"Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan," [Q.S. Al-Hijr: 97]

 

Rasulullah adalah orang termulia, tertinggi dan terkuat hatinya. Tapi sempat pula merasa sedih dan sempit dada karena ucapan manusia. Apalagi kita yang lemah ini?!

 

Memang, tidak layak seorang pria, baik murid biasa apalagi dai, reaktif dan mudah tersinggung dengan ucapan orang lain. Tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa hati yang tersakiti oleh kalimat yang keras, kaku, tajam dan menyakiti, kelak akan menuntut di hadapan Allah Ta'ala.

 

Suatu ketika ada sahabat melaporkan ke Rasulullah perihal seorang perempuan yang luar biasa malam dan siangnya. Malamnya dihiasi dengan shalat, siangnya dijaga dengan shaum. Dan betapa ringannya ia sedekah. Namun ia terbiasa menyakiti tetangganya dengan lisan. Maka apa kata Nabi?

 

هِيَ فِي النَّارِ

"Dia di Neraka." [H.R. Ahmad]

 

Adapun bagi Anda yang menjadi korban, maka Islam punya solusi.

 

Ketika Allah Ta'ala memaklumi sempitnya dada Rasulullah disebabkan ucapan mereka, Dia tidak menyalahkan beliau. Melainkan diperintahkan kepada beliau:

 

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ ٱلسَّٰجِدِينَ وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ

"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (salat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." [Q.S. Al-Hijr: 98-99]

 

Nah, itulah obatnya. Insya Allah gemuruh di dada berganti pelangi nan indah. Jika bisa memaafkan, maka itu jauh lebih baik. Sabar itu keharusan, memaafkan adalah pilihan.

 

Mulai sekarang, mari timpali pahitnya lisan sebagian insan dengan manisnya ilmu dan amalan.

 

Ketahuilah, Anda tidak menyembah mereka. Anda tidak menyembah manusia biasa yang memiliki lisan pahit. Tapi Anda menyembah Allah Ta'ala. Semua ada ganjarannya. Boleh jadi yang hari ini mencederai, di kemudian hari akan mengiba dan meronta-ronta sambil memohon maaf. Boleh jadi yang hari ini dicederai, di suatu saat akan melahap buah dari suatu kesabaran.

 

Semua nasehat dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, tidak hanya berlaku dicorongkan untuk para murid, melainkan semua manusia. Yang kami tahu dan sepakati, dai pun manusia. Bahkan kadang mengenaskannya, jika Anda murid, akan banyak yang bisa menegur. Namun jika Anda seorang ustadz, maka semua sungkan menasehati. Makin banyak jema'ah, makin sulit.

 

Apakah ada di antara kita yang menunggu kematian sebagai penasehat?

 

Ditulis oleh Hasan al-Jaizy