ISTILAH THAHUR YANG DIPERSELISIHKAN

PERTANYAAN


Saya pernah membaca bahwa Imam Abu Hanifah membolehkan mensucikan diri atau tempat dari najis dengan cairan yang bukanlah air mutlak. Sementara selama ini dikenal dalam madzhab Syafi’i: yang bisa menghilangkan hadats dan najis adalah air mutlak. Manakah yang lebih benar antar kedua pendapat tersebut?

JAWAB


Bismillah.


Allah Ta’ala berfirman:


وَأَنزَلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً طَهُورًا

 “Dan Kami turunkan dari langit air thahur”. [Q.S. Al-Furqan: 48]


Perlu diketahui oleh penanya, bahwa pensifatan thahur untuk air ada dalam ayat al-Qur’an dan juga al-Hadits. Dan para ulama berbeda pandangan mengenai maksudnya. Dari titik inilah, perselisihan terjadi mengenai sah atau tidaknya menghilangkan hadats atau najis dengan air yang tidak disebut air mutlak atau cairan.


Dalam madzhab Syafi’i, air thahur maknanya adalah:

الطاهر في نفسه، المطهر لغيره

“Suci secara dzatnya dan mensucikan selainnya.” [Al-Bayan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi’I, 1/11; Bahr al-Madzhab, 1/42; Umdah as-Salik, hal. 8]


Ia adalah suatu ism yang bersifat muta’addy, yakni transitif atau membutuhkan objek. Sisi transitifnya ada pada kemampuan ia untuk mensucikan hal lain dari hadats dan najis.


Adapun Abu Hanifah dan juga al-Ashamm,  bagi mereka –sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Imrany- thahur adalah:

اسم لازم غير متعد يعم جميع الطاهرات

Suatu ism yang bersifat lazim (intransitif) tidak membutuhkan objek dan berlaku umum untuk segala air yang suci.” [Al-Bayan, 1/11]

Ibn al-Humam dalam Fathul Qadir menjelaskan perihal maksud dari istilah thahur:

فَإِنَّ مَفْهُومَهُ لَيْسَ إلَّا الْمُبَالَغَةُ فِي الطَّاهِرِ، كَذَا كُلُّ مَا كَانَ عَلَى صِيغَةِ فَعُولٍ فَإِنَّهُ لَا يُفِيدُ سِوَى الْمُبَالَغَةِ فِي ذَلِكَ الْوَصْفِ، وَالْمُبَالَغَةُ فِيهِ لَا تَسْتَلْزِمُ تَطْهِيرَ غَيْرِهِ

“Yang terpahami dari istilah tersebut tidaklah melainkan adanya sisi mubalaghah (sisi hiperbola atau berlebihnya) sifat sucinya. Begitulah semua lafal yang  memiliki bentuk wazan fa’ul. Ia tidak memberi faedah kecuali sisi mubalaghah dalam sifat tersebut. Sementara, sisi mubalaghah dalam hal suci tidak melazimkan mampunya ia mensucikan materi selainnya.” [Fath al-Qadir, 1/88]


Oleh karena itu, bagi Abu Hanifah, boleh menghilangkan najis dengan cairan biasa yang bukanlah air mutlak, seperti air cuka. Adapun bagi al-Ashamm, boleh menghilangkan hadats (wudhu atau mandi junub, haid dan nifas) dengan cairan-cairan yang bukanlah air mutlak, seperti susu, cuka, dan seterusnya. 


Untuk pendefinisan thahur terhadap air, mungkin pandangan jumhur ulama, di antaranya madzhab Syafi’i, adalah benar. Namun khusus masalah menghilangkan najis, maka pendapat yang lebih tepat adalah madzhab Hanafy, yang membolehkan melakukannya dengan selain air mutlak. Menghilangkan najis tidak dipersyaratkan dengan air mutlak. Itu yang lebih tepat. Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh Ust. Hasan al-Jaizy

 

Referensi :
- Al-Bayan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi’I, Abu al-Husain al-Imrany
- Bahr al-Madzhab, Abu al-Mahasin ar-Ruyany
- Umdah as-Salik wa Umdah an-Nasik, Abu al-Abbas Ibn an-Naqib
- Fath al-Qadir, Kamaluddin Ibn al-Humam