ILMUMU SEDIKIT MAKA MERUNDUKLAH

Hendaknya seorang thalib atau mu'allim, setelah merasakan nikmatnya menuntut ilmu atau mengajarkannya, bersabar. Iya. Bersabar. Saya ulangi dengan penggambaran lebih spesifik:

Hendaknya ketika kita telah merasakan nikmatnya riset ilmiah di kitab-kitab ulama, atau kelar kajian yang cukup berat, atau kajian yang kitabnya jarang dibahas di muka bumi, maka bersabar. Iya. Bersabar.

Bersabar apanya?

Bersabar menahan gejolak sensasi nafsu untuk meninggikan diri, merendahkan pihak lain dan tergesa melaporkan ke sesiapa yang sebenarnya kita juga tahu mereka tidak ada kaitannya dengan sensasi kita. 

Seseorang, setelah bahagia menemukan faedah agung dari kitab kemudian kian tertunduk merasa masih sangat jauh perjalanan kejahilannya, itu jauh lebih baik daripada yang bergegas memantik serangan.

Ingatlah firman Allah Ta'ala:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا 

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." [Q.S. Al-Isra': 85]

Jikapun kita merasa ilmu kita banyak, maka memang itu banyak jika ditimbang dengan mizan syahwat jasmani semata. Fakhruddin ar-Razy berkata:

الْعُلُومُ الْحَاصِلَةُ عِنْدَ النَّاسِ قَلِيلَةٌ جِدًّا بِالنِّسْبَةِ إِلَى عِلْمِ اللَّهِ وَبِالنِّسْبَةِ إِلَى حَقَائِقِ الْأَشْيَاءِ وَلَكِنَّهَا كَثِيرَةٌ بِالنِّسْبَةِ إِلَى الشَّهَوَاتِ الجسمانية واللذات الجسدانية

"Ilmu-ilmu yang terhasilkan pada manusia sangat sedikit jika ditimbang dengan ilmunya Allah, dan dengan hakekat segala sesuatu. Tetapi ia teranggap banyak jika ditimbang syahwat jasmani dan kelezatan jasadi." [Mafatih al-Ghayb, 21/405]

Kesabaran perihal amalan ada 3:

[1] Sabar sebelum beramal, dengan mempersiapkan diri dan memantapkan hati untuk ikhlas.

[2] Sabar ketika beramal, dengan istiqamah dan peneguhan hati dalam keikhlasan.

[3] Sabar setelah beramal, dengan menahan diri dari hal-hal yang merusak atau membatalkan pahala amalan setelah usainya, seperti ujub, mengungkit pemberian dan takabbur.

Nomor 3 ini yang mungkin banyak dari kita kurang berdaya menerapkannya. Terlebih penuntut ilmu, yang baru mengerti suatu hal secara sensasional, kemudian bergegas untuk meninggi. 

Maka, nasehat ini diakhiri dengan kalimat:


وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا 

"Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." [Q.S. Al-Isra': 85]

 

Ditulis oleh  Ust.Hasan al-Jaizy