HUKUM WARIS DALAM ISLAM MEMILIKI HIKMAH YANG AGUNG

Pertanyaan :

Ada seorang ayah wafat dan meninggalkan anak-anaknya. Tak lama kemudian wafatlah kakek mereka (ayahnya ayah yang wafat lebih dahulu). Nah apakah cucu-cucunya berhak mendapatkan warisan sepeninggal kakeknya? Yaitu dengan cara mereka mengambil bagian dari ayahnya yang telah diambil oleh kakeknya. Dan bukankah jika mereka mempunyai paman, maka mereka tidak berhak mendapatkannya, namun bila mereka memiliki bibi, maka mereka berhak mendapatkannya? Lalu apa hikmah dari semuanya itu? Dan apakah bagian dari ayahnya itu hilang begitu saja dikarenakan adanya paman mereka? Mohon pencerahannya! Terimakasih banyak.


Jawab :


Bahwasanya seorang anak yang meninggal sebelum ayahnya, maka seorang ayah tidak mendapatkan warisan darinya. Karena salah satu syarat waris dipastikannya seorang yang diwarisi hidup sepeniggalnya orang yang mewariskan. Sedangkan anak-anak dari mayit tersebut lah yang lebih berhak mendapatkan warisan darinya, karena merekalah yang lebih dekat nasabnya dengan si mayit.


Begitu halnya dengan para sepupu mereka yang berhak mendapatkan warisan dari ayahnya yang wafat sebelum kakeknya. Jadi bila mana seorang anak itu lebih berhak mendapatkan warisan dari ayahnya daripada para pamannya, maka sudah seharusnya anak-anak dari seorang kakek itu lebih berhak mendapatkan warisan darinya, karena nasab mereka lebih dekat dengan kakeknya daripada cucu-cucunya.

 

Dan apabila yang ada adalah para bibi bukan paman, maka para bibi mendapatkan 2/3 dari warisan kakeknya. Selebihnya diambil oleh para cucu kakek tersebut bila mereka ada.

 

Adapun hikmah dari itu semua adalah bahwasanya setiap kerabat yang berhak mendapatkan warisan dari si mayit itu adalah kerabat yang paling dekat nasabnya. Sekiranya hikmah tak dapat diketahui oleh kita, maka kita harus mengetahui bahwa aturan hukum waris dalam islam memiliki banyak hikmah yang sangat mulia dan maksud yang jelas. Yang faham ia akan mengerti, dan yang jahil tidak mengetahuinya. Seorang muslim seharusnya menerima sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman-Nya :


وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” [Q.S. Al-Ahzab: 36]

 

Kemudian kami himbau kepada sang penanya bahwasanya perkara warisan itu bukanlah hal ringan. Tidak akan cukup bila hanya bersandar dengan fatwa, melainkan harus merujuk juga kepada pengadilan berbasis syariah agar permasalahannya lebih mudah terpecahkan. Karena bisa jadi seorang yang mendapatkan warisan tidak mengetahui harta seutuhnya yang ditinggalkan si mayyit baik  berupa hutang, wasiat, ataupun hak-hak yang lainnya. Sudah seharusnya hal yang demikian itu didahulukan sebelum dibagikannya harta warisan. Oleh karena itu, tidak selayaknya membagikan warisan tanpa merujuk ke pengadilan berbasis syariah guna melestarikan maslahat orang yang telah meninggal dan orang yang ditinggal.

Ditulis oleh Ust. Ahmad Yuhanna dan Ust. Hasan al-Jaizy

Referensi:
http://bit.ly/FATWA027