HUKUM TRANSAKSI JUAL BELI ANJING

PERTANYAAN :


Apakah diperbolehkan transaksi jual beli anjing? Dan apakah hasil dari transaksi hal itu halal jika dipergunakan untuk berburu atau berjaga-jaga?


JAWABAN :
Pada asalnya transaksi jual beli anjing itu tidak diperbolehkan sehingga hasil dari transaksi itu pun haram. Abu Juhaifah berkata:


نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ

“Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang harga (uang hasil jual beli) anjing.” [H.R. Al-Bukhary, no. 1944]

 

Begitu pula perkataan Abu Mas’ud al-Anshary :

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ وَمَهْرِ الْبَغِيِّ

“Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang untuk memakan hasil keuntungan dari anjing, dan dukun dan pelacur.” [H.R. Al-Bukhary, no. 4927]


Dalam hadits Rafi’ bin Khadij, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

شَرُّ الْكَسْبِ مَهْرُ الْبَغِيِّ، وَثَمَنُ الْكَلْبِ، وَكَسْبُ الْحَجَّامِ

"Sejelek-jelek usaha adalah usaha pelacuran, jaul beli anjing dan usaha tukang bekam." [H.R. Muslim, no. 2931]


Bahkan memeliharanya pun dilarang. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : 


مَنْ اقْتَنَى كَلْبًا إِلَّا كَلْبًا ضَارِيًا لِصَيْدٍ أَوْ كَلْبَ مَاشِيَةٍ فَإِنَّهُ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ قِيرَاطَانِ 

"Barangsiapa memelihara anjing selain anjing untuk berburu atau anjing untuk menjaga binatang ternak, maka pahalanya akan berkurang dua qirath setiap hari." [H.R. Al-Bukhary, no. 5481]


Sehubungan dengan umumnya larangan transaksi jual beli anjing, mayoritas Ulama berpendapat haramnya penghasilan dari perihal itu secara mutlak baik itu dipergunakan untuk berburu, untuk menjaga hewan ternak atau pun untuk yang lainnya. [Lihat: Al-Umm, 2/253, Al-Bayan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi’I, 5/50, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, 3/393, Al-Kafy fi Fiqh al-Imam Ahmad, 2/7, dan Al-Mughny, 4/189]


Al-Imam an-Nawawy berkata:

وَأَمَّا النَّهْيُ عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَوْنِهِ مِنْ شَرِّ الْكَسْبِ وَكَوْنِهِ خَبِيثًا فَيَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِ بَيْعِهِ وَأَنَّهُ لَا يَصِحُّ بَيْعُهُ وَلَا يَحِلُّ ثَمَنُهُ

“Adapun larangan hasil keuntungan penjualan anjing dan statusnya sebagai seburuk-buruk penghasilan juga kotornya ia, menunjukkan pengharaman perdagangan anjing. Tidak sah jual belinya dan tidak halal hasilnya.” [Syarh Shahih Muslim, 10/232]


Sementara sebagian Ulama ada yang membolehkan bila dipergunakan untuk berburu atau pun semacamnya. [Lihat: Al-Hujjah ala Ahl al-Madinah, 2/754, Al-Lubab fi al-Jam’ Bayna as-Sunnah wa al-Kitab, 2/506, Al-Inayah Syarh al-Hidayah, 7/120, An-Nawadir wa az-Ziyadat ala Ma Fi al-Mudawwanah, 4/384, Al-Bayan wa at-Tahshil, 8/82, 

Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Jabir yang diriwayatkan oleh Imam Nasai : 


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ السِّنَّوْرِ، وَالْكَلْبِ إِلَّا كَلْبَ صَيْدٍ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menggunakan uang hasil penjualan anjing selain anjing pemburu”. [H.R. An-Nasa’I, no. 4295]


Ibnu Hajar mengatakan bahwasanya para periwayat hadits tersebut semuanya tsiqoh. Pendapat kedua inilah insya Allah yang lebih tepat, yaitu diharamkan jual beli anjing serta penggunaan hasilnya, kecuali anjing pemburu.

Wallahu a’lam bisshowab.

 

Ditulis oleh Ust. Hasan al-Jaizy

Referensi:
- Shahih al-Bukhary, Muhammad bin Ismail al-Bukhary
- Sunan an-Nasa’I al-Mujtaba, Ahmad bin Syu’aib an-Nasa’i
- Al-Umm, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i
- Al-Bayan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi’I, Abu al-Husain al-Imrany
- Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, Syihabuddin ar-Ramly
- Al-Kafy fi Fiqh al-Imam Ahmad, Ibnu Qudamah al-Maqdisy
- Al-Mughny, Ibnu Qudamah al-Maqdisy
- Syarh Shahih Muslim, Abu Zakariya an-Nawawy
- Al-Hujjah ala Ahl al-Madinah, Muhammad bin Hasan asy-Syaibany
- Al-Lubab fi al-Jam’ Bayna as-Sunnah wa al-Kitab, Jamaluddin al-Khazrajy
- Al-Inayah Syarh al-Hidayah, Akmaluddin al-Babarty
- An-Nawadir wa az-Ziyadat ala Ma Fi al-Mudawwanah, Abu Muhammad al-Qayrawany
- Al-Bayan wa at-Tahshil, Abu al-Walid Ibn Rusyd al-Qurthuby