HUKUM MEMBELI BUKU SESAT

Pertanyaan : 

Saudari saya membeli buku sesat ketika hendak pulang dari kota. Maka bolehkah saya memintanya untuk mengembalikan buku tersebut ke toko yang ia beli sebelum datang ke rumah, ataukah boleh saya baca buku tersebut, namun saya bersikeras untuk menghindari hal-hal yang berbau kesesatan? Mohon nasehatnya untuk saya. 

Jawab : 

Apabila buku yang dibeli oleh saudarimu tersebut, bagus dan sangat bermanfaat serta mengandung banyak faedah, maka boleh-boleh saja Anda mengoleksinya dan mengambil faedah darinya. Tapi Anda harus tetap mawas diri dari hal-hal yang melenceng. 

Adapun jika buku tersebut sama sekali tidak bermanfaat seperti buku tentang sihir, klenik, atau apa saja yang berbau kemungkaran dan kesesatan, maka yang demikian itu sangat tidak diperbolehkan untuk dibeli terlebih dikoleksi. 

Oleh karena itu, apabila saudarimu membeli buku-buku tersebut, nasehatilah ia agar buku tersebut dikembalikan ke toko yang ia beli. Dan mintalah dikembalikan uang yang telah dibayarkan. 

Seumpama memungkinkan baginya untuk minta dikembalikan uang yang ia bayarkan tanpa harus mengembalikan buku tersebut, maka justru itu lebih baik. Karena mengembalikan buku tersebut sama dengan memberi kesempatan keburukan tersebar.

Al-Khatib asy-Syirbiny dari madzhab Syafi’I berkata:


لَا يَصِحُّ بَيْعُ كُتُبِ الْكُفْرِ وَالسِّحْرِ وَالتَّنْجِيمِ وَالشَّعْبَذَةِ وَالْفَلْسَفَةِ, بَلْ يَجِبُ إتْلَافُهَا لِتَحْرِيمِ الِاشْتِغَالِ بِهَا.

“Tidak sah menjualbelikan kitab-kitab kufur, sihir, okultisme, sulap dan filsafat. Bahkan, wajib untuk dipunahkan disebabkan haramnya menyibukkan diri dengannya.” [Mughny  al-Muhtaj, 2/343]


Al-Haththab ar-Ru’ainy dari madzhab Maliky berkata:


التوراة والإنجيل بعد تحريفهما يجوز إحراقها وإتلافها

“Taurat dan Injil –setelah adanya penyelewengan terhadap keduanya- boleh untuk dibakar dan dipunahkan.” [Mawahib al-Jalil fi Syarh Mukhtashar al-Khalil, 1/287]

Adapun dari kalangan ulama Hanabilah, mereka mensahkan pembelian kitab sesat kemudian dipunahkan, entah dimanfaatkan dengan dialokasikan ke hal lain, sebagaimana disebutkan oleh al-Bahuty. [Lihat: Kasysyaf al-Qina’, 3/75]

Namun jika memang tidak memungkinkan untuk dikembalikan dan ditarik darinya harga pembelian sebagaimana kondisi toko di zaman sekarang, maka buku-buku menyimpang tersebut boleh dimanfaatkan untuk hal mubah, seperti bungkus nasi atau lainnya. Adapun jika dimanfaatkan untuk pajangan, maka dikhawatirkan kelak akan dipelajari oleh diri sendiri atau keluarga. Ini tidak boleh.

Ditulis oleh: Ust. Hasan al-Jaizy dan Ust. Ahmad Yuhanna

Referensi: 
- http://bit.ly/FATWA006
- Mawahib al-Jalil fi Syarh Mukhtashar al-Khalil, Ar-Ru’ainy al-Maliky
- Mughny al-Muhtaj Ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, al-Khathib asy-Syirbiny
- Kasysyaf al-Qina’ an Matn al-Iqna’, Manshur al-Bahuty