HUKUM BELI EMAS VIA TELEPON

Penanya : 

Ayah saya beberapa tahun ini melakukan jual beli emas via telepon. Terkadang menentukan deskripisi dan harga via laptop. Adapun transaksinya dilakukan setelah beberapa saat  kemudian, atau di esok harinya. Telah ditanyakan hukumnya kepada salah seorang syaikh. Katanya dibolehkan. Akan tetapi pendapat syaikh yang lain berkata tidak boleh karena hal itu adalah riba. Saya pun bingung mana yang benar. Apakah ini halal ataukah haram? 

Jawab : 

Jika ayahmu melakukan jual beli emas via telepon atau online, lalu dilakukan transaksinya tidak secara langsung (yakni: via online), maka hal semacam ini tidak diperbolehkan. Hal ini dikarenakan emas termasuk ragam komoditi ribawi yang mana disyaratkan ketika melakukan transaksi jual beli jenis tersebut harus saling serah terima secara langsung (fisik) ketika sudah deal. Apabila tidak memungkinkan untuk melakukan secara langsung sendiri, maka salah satu solusi untuk merealisasikan hal itu adalah dengan cara mewakilkan kepada seseorang yang terpercaya saat serah terima. 

Adapun sebuah percakapan yang dilakukan via telepon atau online hanya untuk menentukan kesepakatan antar kedua pihak, maka hal ini diperbolehkan oleh sebagian para ulama, karena itu bukan termasuk akad jual beli. 

Sebagian para ulama berpendapat bahwasanya emas yang telah diolah menjadi sebuah perhiasan misalkan, bukanlah termasuk dalam ragam komoditi ribawi. Maka dibolehkan jual beli tanpa disyaratkan saling serah terima secara langsung (fisik). Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:


الْحِلْيَةَ الْمُبَاحَةَ صَارَتْ بِالصَّنْعَةِ الْمُبَاحَةِ مِنْ جِنْسِ الثِّيَابِ وَالسِّلَعِ، لَا مِنْ جِنْسِ الْأَثْمَانِ، وَلِهَذَا لَمْ تَجِبْ فِيهَا الزَّكَاةُ، فَلَا يَجْرِي الرِّبَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْأَثْمَانِ كَمَا لَا يَجْرِي بَيْنَ الْأَثْمَانِ وَبَيْنَ سَائِرِ السِّلَعِ


“Perhiasan yang mubah dengan proses yang mubah, termasuk dari jenis pakaian dan barang dagangan, bukan dari jenis tsaman (nilai/harga). Karena itulah, tidak diwajibkan zakat terhadapnya. Maka tidak terjadi hukum ribawi antara perhiasan tersebut dengan harga-harga sebagaimana tidak terjadi hukum ribawi antara harga-harga dengan seluruh barang dagangan.” [I’lam al-Muwaqqi’in, 2/108]

Akan tetapi pendapat mayoritas ulama bertolak belakang dengan pendapat tersebut. 


Ditulis oleh:
Ust. Ahmad Yuhanna dan Ust. Hasan al-Jaizy

REFERENSI: http://bit.ly/FATWA002
- I’lam al-Muwaqqi’in an Rabb al-Alamin, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah