Hukum Asal Nikah Menurut Ulama Madzhab

Dihikayatkan oleh sebagian fuqaha' bahwa Daud dari madzhab Zhahiry menjadikan hukum asal menikah adalah fardhu ain. Ini menyelisihi jumhur ulama dari beragam madzhab; yang tidak menjadikan hukum wajib sebagai hukum asal menikah. 

Ala'uddin as-Samarqandy dari madzhab Hanafy menghikayatkan pendapat Daud azh-Zhahiry tersebut dengan mengatakan:

 النِّكَاح فرض عين حَتَّى إِن من تَركه مَعَ الْقُدْرَة على الْوَطْء والإنفاق فَإِنَّهُ يَأْثَم

"Nikah (hukumnya) fardhu ain hingga jika ia tidak melakukannya padahal ia mampu untuk watha' (jima') dan menafkahi, maka ia berdosa." [Tuhfah al-Fuqaha', 2/117]

Begitu juga al-Qadhy Abdul Wahhab dari madzhab Maliky:

 النكاح مستحب وليس بواجب، خلافاً لداود

"Nikah (hukumnya) mustahab, bukan wajib; ini menyelisihi (pendapat) Daud." [al-Isyraf ala Nukat Masa'il al-Khilaf, 3/281]

Adapun Abu al-Husain al-Imrany dari madzhab Syafi'i, selain menjelaskan hukum asal menikah di madzhab jumhur, beliau menghikayatkan bagaimana pandangan Daud azh-Zhahiry, dengan mengatakan:

 النكاح مستحب غير واجب عندنا، وبه قال مالك، وأبو حنيفة، وأكثر أهل العلم.
وقال داود: (هو واجب على الرجل والمرأة، فإن كان الرجل واجداً لمهر حرة.. وجب عليه الترويج بحرة أو التسري بأمة، وإن كان عادماً لمهر حرة.. وجب عليه التزويج بأمة) .

"Nikah (hukumnya) mustahab tidak wajib bagi kami (ulama madzhab Syafi'i. Begitu pula yang dikatakan oleh Malik, Abu Hanifah dan mayoritas ulama. 

Daud berkata, "Menikah (hukumnya) wajib atas pria dan wanita. Jika seorang pria memiliki kemampuan untuk memberi mahar kepada seorang wanita merdeka, maka wajib atasnya untuk menikah dengan wanita merdeka atau budak perempuan. Jika ia tidak memiliki kemampuan untuk memberi mahar kepada seorang wanita merdeka, maka wajib atasnya menikah dengan budak perempuan." [Al-Bayan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi'i, 9/109]

Dalam madzhab Hanbali, ada riwayat dari Imam Ahmad yang mewajibkan nikah sebagai hukum asal. Namun Ibnu Qudamah menyatakan:

فظاهر المذهب أنه لا يجب إلا على من يخاف بتركه مواقعة المحظور، فيلزمه النكاح

"Zhahir dari madzhab bahwa menikah bukanlah menjadi kewajiban kecuali atas siapapun yang khawatir terjerumus ke hal yang dilarang jika tidak melakukannya. Maka untuk yang seperti itu, harus menikah." [Al-Kafi fi Fiqh al-Imam Ahmad, 3/4]

Ibnu Qudamah pun dalam kitab al-Mughny tidak mengatakan secara terang-terangan hukum asal menikah. Berbeda dengan bagaimana ulama madzhab lain di kitab mereka. Melainkan beliau memilih merinci hukum sesuai dengan konteks. 

Ala kulli hal, jika ingin dilihat dari konteks, maka hukum nikah bisa beragam sesuai dengan ragamnya hukum taklify. Namun jika ingin dilihat dari hukum asal yang diserap dari dalil-dalil, maka yang lebih tepat hukum asalnya adalah dianjurkan. Wallahu a'lam. 

Ditulis oleh: Hasan al-Jaizy

Referensi:

- Tuhfah al-Fuqaha', Alauddin as-Samarqandy
- Al-Isyraf ala Nukat Masa'il al-Khilaf, Al-Qadhy Abdul Wahhab
- Al-Bayan fi Madzhab al-Imam asy-Syafi'i, Abu al-Husain al-Imrany
- Al-Kafy fi Fiqh al-Imam Ahmad, Ibnu Qudamah