FIQH DALIL DAN FIQH MADZHAB TIDAK PERLU DIBENTURKAN

Membuat kesan seolah mempelajari fiqh madzhab tidaklah disebut mengikuti dalil bukanlah suatu sikap yang bijak. Memang terjadi kasus-kasus fanatisme terhadap madzhab. Tapi mengambil sample oknum untuk mengesankan bahwa tamadzhub sama dengan fanatisme adalah tathawul dan sikap keminter di atas para ulama. 

 

Hendakkah kita ambil sample oknum fanatik di tanah air terhadap dai tertentu, kemudian kita kesankan bahwa belajar ke mereka sama dengan menanamkan fanatisme? Mesti akan ada pihak yang tidak terima. 

 

Sebagaimana di bidang lainnya, kitab-kitab fiqh madzhab pun beragam ukuran. Ada versi mukhtasharat, mutawassithat dan muthawwalat. Tiap versi disesuaikan pangsanya. Jangan distorsikan manfaat mempelajari fiqh melalui madzhab sambil melupakan hal ini.

 

Jika kita katakan bahwa mempelajari fiqh madzhab tertentu adalah untuk kalangan ahlul ilm atau thullabul ilm, maka ini kesimpulan tergesa-gesa; karena entah betapa banyak ulama madzhab meringkas kitab dan hanya menyadurkan point inti, untuk dikonsumsi dan dipelajari kalangan awam. Dan kitab-kitab ringkas tersebut mengumpulkan masalah-masalah global dalam fiqh, yang diperlukan oleh kalangan awam. Niatan ulama madzhab justru mempermudah. 

 

Sebagai misal, kitab Mukhtashar al-Qadury dalam madzhab Hanafy. Alaudiin as-Samarqandy (w. 540 H) mengatakan tentangnya:

اعْلَم أَن " الْمُخْتَصر " الْمَنْسُوب إِلَى الشَّيْخ أبي الْحُسَيْن الْقَدُورِيّ رَحمَه الله جَامع جملا من الْفِقْه

"Ketahuilah bahwasanya kitab "al-Mukhtashar" yang dinisbatkan kepada Syaikh Abu al-Husain al-Qadury rahimahullah menjamak  sejumlah dari fiqh." [Tuhfah al-Fuqaha', hal. 5]

 

Kemudian seorang thalib jika ingin meneruskan perjalanan ilmiah fiqh bisa melanjutkan ke kitab "al-Lubab fi Syarh al-Kitab" yang merupakan syarh terhadap kitab al-Qadury tersebut. Jangan lalaikan perkataan faqih Hanafy di muqaddimahnya:

ولما كان كتاب (القدوري) من أجمع الكتب في فقه أبي حنيفة لما يلزم معرفته من الحلال والحرام وبيان خمسة الأحكام، فيما يلزم من الإسلام

"Selagi kitab al-Qadury ini termasuk di antara kitab yang paling menyeluruh dalam Fiqh Abu Hanifah, yang melazimkan pengetahuan tentang halal dan haram serta penjelasan 5 hukum (yakni hukum taklify), yang merupakan hal lazim dari Islam." [Al-Lubab, 1/3]

 

Saya mengambil salah satu sample di madzhab Hanafy, yang mungkin madzhab terjauh daripada tradisi negeri kita. Dengan maksud: agar pembaca terilhamkan bahwa di madzhab Hanafy saja ada hal seperti ini, maka begitu pun madzhab Syafi'i dan Hanbali. 

 

Para ulama Saudi, baik di masa yang telah berlalu hingga kini, sangat jamak membahas matan-matan Fiqh madzhab, terutama matan ringkas semisal "Zad al-Mustaqni'", "Akhshar al-Mukhtasharat", "Umdah al-Fiqh" dan lainnya. Tingkatan selanjutnya, mereka menjelaskan kitab "ar-Raudh al-Murbi'", "Al-Iqna'" bahkan sampai ada yang membahas kitab "al-Kafi" karya Ibnu Qudamah. 

 

Tak satu pun dari para ulama tersebut -sependek pengetahuan kami- yang mengesankan bahwa matan-matan fiqh madzhab ini lepas dari dalil apalagi menyuguhkan potensi fanatisme madzhab. 

 

Sekali lagi, mengambil kasus di masa lampau atau masa kini dari oknum fanatik madzhab untuk mengaburkan pentingnya belajar fiqh madzhab, bukanlah sikap yang tepat. Karena fanatisme ada di medan manapun, sebagai ujian, bala dan tamhish. Jangankan fanatik terhadap imam sebesar Abu Hanifah hingga Ahmad bin Hanbal, fanatik kepada dai lokal pun tidak bisa kita tutup mata akan keberadaannya dan menyakitkannya. Apa karena oknum-oknum tersebut, lantas kita kesankan sisi negatif dari para ulama dan asatidzah? Tidak bijak.

Sampai kami pernah membaca suatu komentar dari individu yang jahil dan majhul, menganggap bahwasanya keberadaan khilafiyyah antar madzhab fiqh ini sebagai perpecahan; yang disebutkan oleh Rasulullah dalam hadits perpecahan. Inilah efek dari salah didik, salah asuh dan salah asupan. 

 

Dalil bertebaran. Kasus lebih banyak lagi. Nash terbatas. Sementara kasus terperbaharui. Terlebih di masa kini. Boleh jadi setiap hari terbit satu kasus kontemporer, yang untuk mengatakan ini halal itu haram memerlukan dalil dan istidlal (istinbath). Begitu pula yang dilakukan oleh para ulama madzhab. 

 

Jika kita menelaah kitab al-Umm, maka kita akan dapatkan masalah demi masalah ilmiah, yang al-Imam asy-Syafi'i simpulkan dengan ijtihad beliau. Para ulama pun mempelajarinya, mengemukakan dalilnya dan mengembangkannya. Disebabkan perbedaan titik dasar ijtihad, terjadilah perbedaan kesimpulan dan pendapat.

 

Lalu ada beberapa insan keminter di zaman ini berkata, "Buat apa coba kita berbeda pendapat seperti itu? Ayo rujuk ke dalil." Seolah-olah para ulama ini menulis ribuan lembaran, tidak ada dalil. Ditambah pula kekonyolan sebagian kita dengan bertaqlid kepada dai tertentu, menjadikannya marja' fatwa dan melazimkan fatwanya untuk setiap insan dan semua madzhab; mengesankan 'pendapat guru saya inilah yang sesuai dalil'. Padahal dai tersebut hanya berijtihad, sebagaimana ulama madzhab berijtihad. Bisa benar, bisa salah. 

 

Jika benar, maka alhamdulillah; dan insya Allah sudah pernah ada ulama dari madzhab fiqh yang telah mengatakannya.

Jika salah, maka rujuklah saat mengetahui rupanya dai lain atau ada ulama yang lebih tepat. Bukan justru belagak pilon atau menutup mata.

 

Selagi misal, kita geram jika ada yang mendiskreditkan guru kita, maka ketahuilah lebih banyak dari mukminin yang shalihin yang geram jika kita mendiskreditkan ulama yang sudah berijtihad. Ijtihad mereka jauh lebih baik dibandingkan guru kita. Sikap inshaf itu bukan dagangan yang kita jual dan semua orang harus beli. Sikap inshaf itu adalah salah satu bukti taufiq dari Allah Ta'ala . 

 

Inshaf adalah mengikuti dalil, mengikuti ulama jika jahil akan dalil dan tidak bersikap adil.

 

✒ Ditulis oleh :
Ust. Hasan al-Jaizy