DUA KASUS PELAKU RIBA INI BERBEDA

Pertanyaan : 

Apakah ada bedanya seseorang yang mengatakan ‘saya mengerti kalau riba itu haram, akan tetapi saya terpaksa melakukannya karna kebutuhan hidup dan mirisnya keadaan’, dengan seorang yang mengatakan ‘saya mengerti kalau riba itu haram akan tetapi saya menyukainya’. Apakah ada indikator yang bisa merubah dari kecanduan seperti ini  menjadi sebuah penghalalan terhadap riba? Dan apakah yang demikian itu termasuk dosa? 

Jawab : 

Siapa saja yang mendekati riba dengan alasan karna kebutuhan hidup dan mirisnya keadaan, sangat jauh berbeda dengan seorang yang mendatangi riba dengan hawa nafsunya. Maksiat terkadang teriringi oleh sebuah rasa kehinaan dan keterpecahan hati yang menjadikan suatu dosa kecil walapun perkara tersebut amatlah besar. Terkadang juga teriringi dengan lagak sombong dan rasa tinggi yang berdampak pada dosa yang amat besar sekalipun perkara tersebut sepele. Maka jauhlah berbeda seorang yang mengakui atas dosa-dosanya dengan seorang yang lalai lagi menyombongkan diri. 


Abu hurairah Radhiyallahu ‘anh meriwayatkan sebuah hadits yang dinukil oleh al-Bukhary dan  Muslim; 


كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ، وَإِنَّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ، فَيَقُولَ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Setiap umatku diampuni dosanya kecuali seorang yang terang-terangan dalam kemaksiatannya. Sesungguhnya salah satu bentuk terang-terangan dalam maksiat adalah seseorang mengerjakan suatu keburukan dimalam hari, dan Allah telah menutup aibnya. Namun pada esok harinya , ia mengatakan pada temannya, “Wahai fulan, semalam aku  telah berbuat suatu begini begitu”, padahal Allah telah menutup aibnya malam itu. Namun keesokan harinya ia membuka aibnya yang telah ditutupi oleh Allah”. [H.R. Al-Bukhary, no. 6069]

Maka barang siapa yang terang-terangan melakukan kemaksiatan dihadapan manusia, dan memamerkan keburukannya dihadapan mereka, hal itu akan menyebabkan dosa yang bertumpuk-tumpuk. Ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam kitab beliau “Fathul Bari”:


الَّذِي يُظْهِرُ الْمَعْصِيَةَ قَدِ ارْتَكَبَ مَحْذُورَيْنِ إِظْهَارَ الْمعْصِيَة وتلبسه بِفعل المجان


“Seseorang bisa mendapatkan dua dosa, yaitu terang-terangan dalam maksiat dan dengan mudahnya ia melakukan kemaksitan itu tanpa beban.” [Fath al-Bary, 10/487]

Maka kami peringatkan kepadanya atas bahaya membanggakan diri dengan melakukan hal yang diharamkan oleh Allah, dan kami serahkan urusannya kepada Allah. Adapun penghalalan, tidak mesti seseorang yang melakukan dosa terang-terangan atau berbangga atasnya berarti menghalalkannya.

Ditulis oleh Ust.Ahmad Yuhanna dan Ust.Hasan al-Jaizy

Referensi:
- http://bit.ly/FATWA014
- Shahih al-Bukhary
- Fath al-Bary, Ibnu Hajar al-Asqalany