BEROBAT TIDAK BERSEBERANGAN DENGAN TAWAKAL

Ikhtiyar dengan berobat bagi orang yang sakit adalah suatu tempuhan sebab (al-akhdz bi al-asbab) yang disyariatkan. Ia sama sekali tidak berseberangan dengan tawakal kepada Allah Ta’ala. Disebutkan oleh al-Imam at-Tirmidzy hadits Anas bin Malik radhiyallahu anh bahwa seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أُطْلِقُهَا وَأَتَوَكَّلُ

“Wahai Rasulullah, apakah aku mengikat (untaku) sambil bertawakal atau aku lepas saja ia sambil bertawakal?”

Maka beliau menjawab:

اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ

“Ikatlah ia dan tawakallah!” [H.R. At-Tirmidzy, no. 2517]

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah tuannya orang-orang bertawakal, dan beliau adalah orang yang menempuh sebab untuk mencapai kebaikan atau kesembuhan. Beliau memanfaatkan ruqyah dan memerintahkan untuk berobat, selagi bersabda:

يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً

“Wahai para hamba Allah, berobatlah kalian! Sesungguhnya tidaklah Allah menciptakan suatu penyakit melainkan Dia menciptakan pula obat untuknya.” [H.R. Ahmad, no. 18454; At-Tirmidzy, no. 2038 dan Abu Daud, no. 3855]

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

وَفِي الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْأَمْرُ بِالتَّدَاوِي وَأَنَّهُ لَا يُنَافِي التَّوَكُّلَ، كَمَا لَا يُنَافِيهِ دَفْعُ دَاءِ الْجَوْعِ وَالْعَطَشِ، وَالْحَرِّ، وَالْبَرْدِ بِأَضْدَادِهَا، بَلْ لَا تَتِمُّ حَقِيقَةُ التَّوْحِيدِ إِلَّا بِمُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ الَّتِي نَصَبَهَا اللَّهُ مُقْتَضَيَاتٍ لِمُسَبَّبَاتِهَا قَدَرًا وَشَرْعًا، وَأَنَّ تَعْطِيلَهَا يَقْدَحُ فِي نَفْسِ التَّوَكُّلِ

Dalam hadits-hadits yang shahih terdapat perintah untuk berobat. Hal itu tidaklah menafikan sikap tawakal, sebagaimana rasa lapar, haus, kepanasan dan kedinginan tidak menafikan (tawakal) dengan (menempuh sebab melalui) hal-hal yang bertentangan dengan itu semua.Bahkan, tidaklah sempurna hakekat tauhid seseorang melainkan dengan menempuh sebab yang telah Allah tentukan konsekuensinya secara taqdir dan syariat. Justru mengabaikan penempuhan sebab mencederai tawakal itu sendiri.” [Zad al-Ma’ad FI Hady Khayr al-Ibad, 4/14]

: Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan 

فإن مباشرة الأسباب في الجملة أمر فطري ضروري لا انفكاك لأحد عنه حتى الحيوان البهيم، بل نفس التوكل مباشرة لأعظم الأسباب

“Sesungguhnya menempuh sebab secara umum merupakan perkara fitrah dan darurat. Tak satupun mampu berlepas akannya hingga hewan ternak sekalipun. Bahkan tawakkal itu sendiri adalah menempuh sebaik-baik sebab.” [Taysir al-Aziz al-Hamid fi Syarh Kitab at-Tauhid, hal. 84]

Mengacu kepada dalil yang telah disebutkan, serta penjelasan ulama di atas, maka berobat adalah suatu hal yang disyariatkan, selama obat yang dimanfaatkan adalah halal. Wallahu a’lam

 

Hasan al-Jaizy

11 Dzulhijjah 1440

 

Referensi:

- Musnad al-Imam Ahmad, Ahmad bin Muhammad bin Hanbal

- Sunan Aby Daud, Sulaiman bin al-Asy’ats as-Sijistany

- Sunan at-Tirmidzy, Muhammad bin Isa at-Tirmidzy

- Zad al-Ma’ad fi Hady Khayr al-Ibad, Muhammad bin Abu Bakr al-Jauziyyah

- Taysir al-Aziz al-Hamid fi Syarh Kitab at-Tauhid, Sulaiman bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab