Antara Mencintai dan Tradisi

Sebagian dari kita, setelah takbiratul ihram, tenggelam dalam lamunan dan khayalan. Hal-hal di luar shalat jadi teringat. Bahkan, sebagian orang menyarankan, "Jika kamu lupa akan sesuatu, maka shalatlah." Maksudnya: saat shalat, maka lamunanmu akan terbang dan tetibanya teringat hal yang sebelumnya kamu lupakan. Ini saking terbiasanya shalat diisi dengan kekosongan hati akan makna shalat itu sendiri, makna bacaan dan kurang 'ihsan' dalam beribadah.

Sampai-sampai, dia baru terjaga dari lamunan saat imam membaca takbir intiqal menuju ruku'. Baru ngeh. Dia lupa tadi membaca apa saja. Membaca al-Fatihah sudah pasti. Walau tanpa kesengajaan, namun karena kebiasaan, maka sudah dibaca dengan pelafalan secara matic. 

Maka ia berusaha ingat tadi baca surat apa setelah al-Fatihah. Dia pun menemukan setelah kuat usaha mengingat. Rupanya yang ia baca adalah:

Surat al-Ikhlash. 

Yang mana, ia adalah bacaan alternatif di hampir setiap rakaat, terutama jika sedang lalai. 

Tolong bedakan kisah konyol tersebut dengan kisah berikut:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang pada suatu pasukan. Lalu ia membaca surat dalam shalat pada para sahabatnya dan ia selalu tutup dengan surat “qul huwallahu ahad” (surat Al Ikhlas). Ketika kembali, mereka menceritakan perihal orang tadi kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun berkata, “Tanyakan padanya, kenapa ia melakukan seperti itu?” 

Mereka pun bertanya pada orang tadi, ia pun berkata, “Karena di dalam surat Al Ikhlas terdapat sifat Ar Rahman (sifat Allah) dan aku pun suka membaca surat tersebut.” 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَخْبِرُوهُ أَنَّ اللَّهَ يُحِبُّهُ

 “Katakan padanya bahwa Allah mencintainya.” (HR. Bukhari no. 7375). [Terjemahan hadits copas dari muslim.or.id]

Tentu saja  berbeda. Sahabat tersebut membaca surat al-Ikhlas setiap raka'at karena kecintaannya. Sementara kita membacanya di mayoritas raka'at karena alternatif termudah, terhafal, minim hafalan surat lain, dan kadang secara otomatis.

Bedakan antara tradisi murni dengan kecintaan. 

Sekarang, kita menuntut ilmu dan mengamalkan karena sekadar tradisi, tidak enakan, atau karena cinta dan mengharap pahala?

Bahkan, datang ke kajian pun, karena tidak enakan, atau karena ingin berkahnya? Karena ingin dilihat 'wah, fulan hadir di kajian ustadz fulan' atau karena ingin cari pahala?