Ahlul Qur'an dan Ahlus Sunnah

Saya melihat ada dai melabeli seorang dai dengan sebutan 'manusia Qur'an' sebagai tazkiyah. Saya pun mencoba menyimak seberapa beliau melisankan al-Qur'an, menjelaskan dan mengaplikasikannya secara zahir di kajian. Maka saya dapatkan, keumuman asatidzah Ahlus Sunnah justru lebih kental ta'zhim terhadap al-Qur'an, lebih sering mengucapkannya di taklim sebagai dalil, lebih sering membahas ayat yang kerap ditambahi dengan perkataan ahli tafsir. 

Betul. Itu dibandingkan dengan sesiapa yang konon 'manusia Qur'an' namun pun banyak goje'an di taklim dan pembahasan yang sebenarnya terlalu ngelantur. Sekalipun ngajinya konon ngaji kitab. Sekalipun insya Allah juga hafal al-Qur'an. Point terakhir ini, kami berharap semoga Allah berikan ganjaran terbesar untuk beliau atas hafalannya terhadap kalam Allah.

Betul. Itu dibandingkan dengan sesiapa yang konon kajiannya sarat dengan ayat namun kering akan penafsiran dan pemahaman salaf. 

Tapi kami memandang keumuman asatidzah Ahlus Sunnah adalah yang paling mengagungkan al-Qur'an. Setiap insan mestilah mempunyai kekurangan. Namun kita tidak berbicara detail satu persatu kekurangan, melainkan pembuktian di taklim siapa yang lebih menyentuh esensi al-Qur'an.

Saya melihat sebagian pihak mengklaim kelompoknya sebagai Ahlus Sunnah, sedangkan selainnya tidak. Kita tahu bahwa klaim bisa terpetik di lisan setiap insan. Yang ingin kita lihat kini adalah buktinya.

Rupa-rupanya, ada yang kerap mengklaim Ahlus Sunnah namun justru kesehariannya melanggar asas-asas Sunnah. Di antaranya: spirit ittiba'(mengikuti Sunnah Rasul). Diperparah dengan melakukan amalan-amalan bid'ah yang tak ada contohnya dari Rasulullah maupun salaf. Ditambah dengan keyakinan-keyakinan khurafat yang laris di pasar kelompok mereka. Makin berpenyakitlah ketika justru yang jelas ada Sunnahnya ditentang, seperti membiarkan jenggot bagi pria, tidak isbal, dzikir sesuai petunjuk Rasul dan hal lainnya.

Banyak orang mengaku dirinya cinta Nabi. Mungkin betul mencintai Nabi dan ia akan diganjari untuk itu kebaikan oleh Allah. Namun jika amaliyyahnya adalah bid'ah, maka jelas tertolak, sebagaimana hadits Aisyah.

Mencintai Nabi shalallahu alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti Sunnahnya, bukan justru mengamalkan bid'ah, apalagi menentang Sunnah. Allah Ta'ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ

 

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." " [Q.S. Ali Imran: 31]

Syaikhul Islam berkata:

وإنما كمال محبته وتعظيمه في متابعته وطاعته واتباع أمره، وإحياء سنته باطنًا وظاهرًا، ونشر ما بعث به، والجهاد على ذلك بالقلب واليد واللسان. 

"Kesempurnaan cinta terhadap Nabi dan pengagungan terhadap beliau hanyalah ada di sikap mutaba'ah (mengikuti), taat, turut akan perintah beliau, menghindupkan sunnah-sunnah beliau lahir batin, menyebarkan ajaran beliau, dan berjihad di atas itu semua dengan hati, tangan dan lisan." [Iqtidha' ash-Shirath al-Mustaqim, hal. 404]

Banyak dari hamba Allah justru lebih berhasrat melakukan bid'ah sambil mengklaim dirinya atau kelompoknya sebagai Ahlus Sunnah. Mereka sangat qana'ah terhadap amalan yang diperintahkan oleh Rasulullah. Namun mereka sangat tamak terhadap amalan yang tidak ada syariatnya dalam Islam. 

Maka, apa gunanya membuat banyak hiasan dan pernah pernik untuk mushaf sementara membacanya pun tidak?!
Apa gunanya memegahkan masjid dan menghiasi dengan kaligrafi mewah sementara menghadirinya pun enggan?!

Semoga menjadi bahan renungan yang melahirkan kesadaran dan amalan. Barakallahu fikum.