AHLI WARIS MENUNTUT PENGULANGAN PEMBAGIAN WARISAN

Pertanyaan :

Ayah saya telah wafat dan meninggalkan istri (yaitu ibu saya) serta lima anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Ayah saya memiliki tujuh rumah yang mana tiga dari saudara saya dan satu saudari saya menempati rumah-rumah tersebut. Ketika dilakukan pembagian warisan, salah satu dari mereka menaksir harga rumah yang dihuni itu dengan harga yang sangat tidak masuk akal tanpa kesepakatan orang-orang yang tidak menghuni rumah tersebut. Hal itu sangat menguntungkan bagi mereka. Adapun selain mereka, sebagian berhalangan untuk datang saat warisan dibagikan, sebagian ada yang menghadirinya, tapi dikarenakan malu untuk berdebat dengan mereka masalah uang. Dan sekarang tinggal satu rumah saja. Apakah boleh orang-orang yang merasa dicurangi menuntut untuk dilakukannya proses pembagian warisan secara ulang agar timbul keadilan yang merata?

Jawab :


Yang tampak bagi kami dari kasus tersebut: kalian ahli waris saling membagi satu sama lain atas dasar keridhoan atau disebut juga al-muradhat (المراضاة).

والمراضاة هي أن يتراضى الورثة على طريقة للتقسيم، بأن يأخذ كل وارث شيئا معينا من التركة، ولا يشترط أن يكون الشيء المأخوذ يساوي حصة الآخذ إذا كان المغبون بالغا رشيدا وفعل ذلك مختارا. ويشترط لصحة ولزوم القسمة حضور المتقاسمين أو من ينوب عنهم، جاء في درر الحكام في شرح مجلة الأحكام ما ملخصه :  يشترط في لزوم ونفاذ قسمة الرضاء رضاء كل واحد من المتقاسمين, بناء عليه إذا غاب أحد المتقاسمين ولم يكن له نائب وقسم الحاضرون وأفرزوا حصة الغائب فلا تصح قسمة الرضاء أي لا تكون لازمة, ومن حق الغائبين أن لا يجيزوا القسمة وأن ينقضوها. أما إذا حضروا بعد ذلك وأجازوا القسمة فتلزم . انتهى

"Al-muradhat adalah ihwal yang mana orang-orang yang mendapatkan warisan saling ridho atas cara dibagikannya warisan. Tiap dari mereka mengambil warisan yang telah ditentukan. Dalam kasus tersebut, harta warisan yang diambil itu tidak mesti  sesuai dengan jatah ahli waris yang mengambilnya apabila yang dicurangi itu adalah seorang yang sudah dewasa dan tidak ada keterpaksaan (yakni atas dasar sukarela)."


Ketahuilah bahwa syarat sahnya dibagikan harta warisan itu dengan hadirnya para anggota warisan atau yang mewakilinya. Disebutkan dalam buku “ Durarul Hikam fi Syarh Majallatul Ahkam “ secara ringkas:


 يشترط في لزوم ونفاذ قسمة الرضاء رضاء كل واحد من المتقاسمين, بناء عليه إذا غاب أحد المتقاسمين ولم يكن له نائب وقسم الحاضرون وأفرزوا حصة الغائب فلا تصح قسمة الرضاء أي لا تكون لازمة, ومن حق الغائبين أن لا يجيزوا القسمة وأن ينقضوها. أما إذا حضروا بعد ذلك وأجازوا القسمة فتلزم . انتهى

“Syarat sahnya pembagian harta warisan adalah saling ridho satu sama lain. Oleh karna itu, apabila salah satu anggota ahli waris atau yang mewakilinya tidak datang saat dilakukan pembagian, lalu orang-orang yang hadir saat itu bersikeras untuk melakukan pembagian, maka pembagian tersebut tidak sah. Yakni: pembagian tersebut tidak lazim (tidak berkonsekuensi hukum kepemilikan).  Dan anggota yang berhalangan hadir berhak melarang atau membatalkan proses pembagian. Adapun bila semua anggota bisa hadir, maka dibolehkan bagi mereka untuk membagi satu sama lain, dan dinyatakan sah/lazim.”


Maka teruntuk saudara-saudaramu yang berhalangan datang saat itu bila tidak ada yang mewakilkan mereka, boleh menuntut untuk dibatalkan atau dilakukannya proses pembagian ulang.


Adapun pertanyaan Anda perihal bolehkah orang-orang yang merasa dicurangi tersebut menuntut agar dilakukan pembagian ulang secara merata dan adil, maka ketahuilah bahwa sempurnanya pembagian itu adalah sebuah akad yang lazim. Ia sudah melazimkan kepemilikan untuk tiap jatah pihak ahli waris. Akan tetapi bila terjadi kecurangan yang sangat fatal (ghabn fahisy) dalam pembagian disertai bukti yang nyata atau sebuah persaksian (iqrar), maka sebagian Ulama berpendapat agar seorang yang dicurangi menuntut pembatalan atau proses pembagian ulang.


Disebutkan dalam buku “Durarul Hikam fi Syarh Majallatul Ahkam “ : 


يلزم أن تكون القسمة عادلة سواء كانت القسمة رضاء أو قضاء أي أن تعدل الحصص بحسب الاستحقاق وأن لا يكون بإحداها نقصان فاحش فلذلك تسمع في القسمة دعوى الغبن الفاحش، فإذا تبين وجود الغبن الفاحش في القسمة بالحجة فتفسخ القسمة وتقسم ثانية قسمة عادلة أي أنه يجب أن يثبت وجود الغبن الفاحش في القسمة بالبينة، وإذا كانت القسمة التي وقع فيها الغبن الفاحش رضائية فقد قال بعض العلماء بعدم جواز فسخها، لأنه قد وقع التراضي بين المتقاسمين، وقد قال بعض العلماء وأصحاب المتون بأنه تسمع دعوى الغلط والغبن الفاحش الرضائية أيضا وأنه يجوز إبطالها عند الثبوت لأن جواز شرط القسمة وجود المعادلة فيها وقد عد هذا القول هو القول الصحيح.


“Wajib hukumnya pembagian dilakukan yang adil, baik hal itu atas dasar ridha maupun atas dasar pembagian yang telah ditentukan oleh syariat. Jangan sampai terjadi pembagian yang mengurangi salah satu pihak dengan pengurangan yang keterlaluan. Jika itu terjadi, maka klaim terkait kasus kecurangan fatal (ghabn fahisy) itu bisa diperhitungkan. Apabila terbukti adanya kecurangan yang fatal dalam pembagian harta warisan dengan bukti kuat, maka batallah pembagian tersebut, dan dilakukan pembagaian ulang secara adil yang kedua kalinya.Pihak yang dirugikan wajib menegaskan adanya kecurangan fatal dalam pembagian dengan adanya bukti kuat. Apabila terjadi kecurangan fatal namun berakhir saling ridha, maka menurut pendapat sebagian Ulama tidak dibolehkan membatalkan akad pembagian tersebut, dikarenakan adanya keridhoan antar sesama ahli waris. Sebagian Ulama berpendapat bahwasanya dakwa kasus ghalth (kesalahan) dan kecurangan fatal yang berakhir ridho itu diperhitungkan juga dan boleh dibatalkan jika terdapat bukti yang nyata. Karena syarat bolehnya dilakukan proses pembagian itu adalah adanya keadilan satu sama lain. Dan hal ini adalah pendapat yang shahih.”


Yang demikian itu adalah pendapat dari sebagian ulama. Maka selayaknya seseorang yang dicurangi dalam hal pembagian warisan yang berakhir ridho, agar mengadu kepada hakim syariah dan mengungkap bukti yang spesifik atas kecurangan tersebut untuk diselenggarakannya proses pembagian ulang. Karna kasus sengketa tidaklah bisa terpecahkan melainkan dari para hakim yang berbasis syariah walaupun tidak semua negara terdapat hal tersebut.


Dan kami menasehatkan agar semua perkara diatasi dengan kelemah lembutan dan tak luput dari meminta pertolongan kepada Allah. Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga kalian dari persengketaan antar sesama. Amiin

Ditulis oleh Ust. Ahmad Yuhanna dan Ust. Hasan al-Jaizy

Referensi:

- http://bit.ly/FATWA026